Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 September 2023 | 17.34 WIB

Bibiana Lee Melawan Diskriminasi dan Rasisme dengan Karya Seni

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Pameran Bibiana Lee terkini Sum, Absence, and the Shades yang digelar di Rubanah Underground Hub Jalan Timor 25, Menteng, Jakarta, sungguh menghebohkan. Pasalnya, seluruh tempat pameran yang sering sunyi sepi menjadi riuh.

SELURUH dinding rubanah dipenuhi cetakan image-image tangan manusia pengunjung yang membeludak memenuhi pameran dari 19 Agustus sampai 10 September lalu. Disertai poster-poster bertulisan teks yang mempertanyakan kesetaraan sesama manusia, tempat pameran bak ajang pertarungan salah satu permasalahan kemanusiaan yang tiada tara.

Publik, terutama pengunjung muda, berlomba-lomba mencetak tangan di mesin printer kecil di tengah pameran. Mereka menjadi peserta dalam pameran yang mempersoalkan diskriminasi atau etnisitas berdasar warna kulit. Padahal, apakah manusia berkulit kuning atau hitam, darah di bawah kulit tanpa terkecuali semua berwarna merah. Bibiana Lee sengaja mempertahankan nuansa hitam dan putih yang memengaruhi suasana.

Sebelumnya, karya Bibiana di ArtJog 2023 juga mempersoalkan warna. Bukan isu warna kulit. Melainkan orang yang buta warna. Di ArtJog 2023, sebuah ruangan disulap menjadi sasana latihan tinju.

Karya interaktif itu menghadirkan beberapa samsak yang bertajuk I (Cannot) See Color. Karya itu menjadi tempat favorit pengunjung. Di ruangan yang luas menyerupai ruang gym, terdapat beberapa buah samsak. Samsak itu diberi titik-titik dan teks berwarna. Siapa saja dapat melayangkan tinjunya yang paling hebat.

Namun, orang yang buta warna tidak dapat melihat warnanya. Untuk orang yang buta warna, tidak ada perbedaan warna. Sehingga sulit untuk melakukan diskriminasi, kata Bibiana yang semakin lanjut usianya semakin kreatif membuat karya.

Cara Bibiana stand out dalam mempresentasikan isu yang berat atau serius dengan cara yang dapat diterima, mudah dicerna, ternyata bisa diterima semua kalangan. Tercatat beberapa komentar orang buta warna yang berterima kasih isu ini diangkat dalam perhelatan seni seperti ArtJog 2023 lalu.

Samsak dan warna mulai menjadi penting dalam kekaryaan Bibiana sejak 2022. Yakni ketika ia menjadi salah satu peserta yang terpilih untuk pameran Indonesian Women Artists, Infusions into Contemporary Art yang diproduksi Yayasan Cemara Enam dan dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia.

Dalam karya sebelumnya, Bibiana juga menuliskan sejarah diskriminasi di Indonesia mulai 1740 di atas perangkat porselen halus. Pada 2022 Bibiana menjawab tuduhan-tuduhan dunia kepada orang-orang berwajah Asia sebagai penyebar virus Covid-19 dengan karya instalasi samsak bertajuk I Am Not A Virus.

Dalam samsak-samsak tadi dibubuhkan teks-teks tuduhan dan yang bisa ditinju sekeras-kerasnya oleh publik. Bibiana juga membuat instalasi The Human Race. Yakni berupa running text yang menggetarkan. Teks ini menjadi iluminasi bahwa semua warna penting karena there is only one race, the human race.

Sejak permulaan kariernya sebagai perupa profesional memang masalah identitas, nasib orang-orang terpinggirkan, dan isu kemanusiaan menjadi tema yang memicu kreativitas Bibiana. Keprihatinan dinyatakan dengan karya dari berbagai medium. Seperti lukisan, patung-patung terakota, video, dan artificial reality.

Bermula dari perangkat piring porselen halus yang dalam bahasa Inggris disebut China, idenya pun berkembang dengan berlalunya waktu.

Sebetulnya masalah identitas sudah bisa dilihat pada karyanya berupa perangkat meja dari porselen dengan image-image dalam Mbok Jamu (2005). Karya ini masuk short list untuk Indonesian Good Design Selection Award dari National Center of Design.

Bibiana berpendidikan master of business Information Technology, Curtin University, Australia; postgraduate diploma in Clothing Technology, Hollings College; Textile Economics and Management, University of Manchester Institute of Science and Technology, UK. Kemudian menjadi perupa pada 2002.

Meraih honorable mention oleh Indonesian Heritage Society pada 2009. Lalu menjadi finalis pada kompetisi Erlangga Art Awards 2022 lewat instalasi Indonesia Poros Maritim Dunia dengan menggunakan teknik augmented reality (AR). Lalu peserta Indonesian Women Artists, Infusions into Contemporary Art 2022, pameran 78 perempuan Marwah 2023, ArtJog 2023, In Between TMII 2023. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore