
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
”Jangan lupa bahagia” jelas lebih terasa mudah untuk dikatakan daripada dilakukan. Terutama karena kita tahu, kesedihan bukanlah sesuatu yang direncanakan. Ia bisa datang kapan saja.
---
THE Discomfort of Evening, novel debut penulis Belanda Marieke Lucas Rijneveld yang tahun ini memperoleh penghargaan The International Booker Prize, dibuka dengan lanskap yang tampak membahagiakan: sebuah rumah penuh kedamaian di peternakan, keluarga yang saleh, menjelang Natal.
”Keluarga yang saleh”, kita tahu, sering kali menjadi gambaran keluarga yang ideal. Ia dibayangkan jauh dari segala yang jahat dan kotor. Di novel ini bahkan sampai titik di mana tak ada saluran TV komersial. Hanya TV Netherland 1, 2, atau 3 yang tak ada ”orang telanjang”. Keluarga saleh adalah keluarga yang terlindungi dari noda dunia.
Tapi, dunia yang terlindung pun memiliki akhir: kematian. Andai kematian merupakan pusat dari kosmologi kesalehan, sebab perbuatan baik dan ibadah sering kali merupakan bekal untuk kehidupan yang akan datang, kematian tetaplah kematian. Ia memberikan rasa tak nyaman bagi yang hidup.
”Meskipun mereka menceritakan hal-hal baik mengenai abangku, kematian tetaplah terasa menjijikkan…” kata Jas, sang narator, di hadapan peti mati Matthies, abangnya.
Seketika, keluarga itu mulai diliputi kesedihan, juga keputusasaan. Ironisnya, orang sering semakin mendekat kepada agama, kepada Tuhan, ketika malapetaka datang menghampiri, mencari perlindungan dan penghiburan. Pada saat yang sama, bisa pula membuat orang semakin menjauh, merasa tak memperoleh perlindungan maupun penghiburan.
Si ibu mulai tak lagi makan bersama sekaligus tak banyak makan seperti sebelumnya. Tubuhnya mulai kurus. Mereka memang masih pergi ke gereja, tapi hanya agar ”tetangga tahu kamu datang dan meskipun apa yang terjadi, kami masih percaya kepada-Nya.”
Obbe, salah satu anak di keluarga itu, mulai mempertanyakan apa itu kematian dan bermain-main dengan kematian: ia memasukkan seekor hamster ke dalam gelas berair, menutup gelas itu dengan telapak tangannya. Di depan matanya, hamster itu melonjak ke segala sisi, mata membelalak, sebelum mati.
Marieke Lucas Rijneveld, seorang penulis bergender non-binari, perlahan (dan sedikit menyayat-nyayat) mengisahkan tentang peta kesedihan, dikontraskan dengan kehidupan keluarga yang demikian taat pada nilai-nilai agama.
Tapi, bahkan dalam kemuramannya, novel ini menawarkan percik-percik humor meskipun sejenis humor kelam. Ketika anak-anak itu mandi kelewat lama, misalnya, sang ayah akan menakut-nakuti bahwa kulit mereka akan mengelupas dan ia terpaksa menjemurnya seperti menjemur kulit kelinci.
Baca juga:

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
