
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Tidak banyak orang tahu, Banggai punya ubi endemik yang populer disebut ubi banggai atau baku. Lebih sedikit lagi yang tahu, ubi yang kaya antioksidan dan pernah menjadi pangan pokok orang Banggai ini punya latar cerita.
ADA beberapa varian, tapi intinya baku diceritakan tumbuh dari tubuh seorang putra kepala suku di masa lampau yang rela mati demi menghindarkan seluruh warga dari ancaman paceklik ekstrem. Dari kubur putra yang ikhlas itu, tumbuhlah tanaman yang buahnya berbentuk anggota badan, seperti kaki, tangan, atau jantung. Buah itu disebut baku. Sesuai wasiatnya, baku dibudidayakan dan disakralkan.
Di Festival Sastra Banggai 2022 lalu, saya makan salanggar. Piring saya penuh cincangan baku dengan lauk sambal cacahan ikan cakalang. Nikmat sekali! Saya ingin cerita banyak tentang salanggar, tapi sayang, ini bukan tulisan kuliner, melainkan refleksi kritis terhadap pengetahuan mitik dan kebenarannya.
Mungkin kita bisa bilang titik tekan legenda baku bukanlah pada kebenarannya, melainkan pada fungsi sosialnya. Legenda baku mungkin adalah simbol rekaan yang menerangkan kesakralan baku serta menjadi landasan etika pangan dan pengolahan sumber daya alam Banggai. Tentu cara legenda baku kini tidak lagi punya daya ikat sosial. Saat beras datang sebagai mitos pangan pemerintahan Orba-Jawasentris, baku tersingkir. Juga, saat rumah baku, yakni ekosistemnya, dikikis tambang gamping, kegigihan untuk mempertahankannya sudah tipis.
Menerima Kebenaran Mitik
Masalahnya, tafsir bahwa legenda baku hanya bisa diterima fungsi sosialnya adalah tafsir outsider. Mungkin, di jantung peradaban Banggai, masih ada yang percaya kebenaran legenda baku. Mungkin juga tidak. Lepas dari itu, nyatanya, di seluruh Nusantara, ada banyak cerita mitik yang bukan merupakan simbol belaka, melainkan kenyataan yang dapat dipercaya, dapat dikonfirmasi dampak magisnya, dan dapat menjadi ”jalan utama” konservasi lingkungan yang lebih efektif.
Mari melihat contoh konsepsi tri hita karana Bali. Konsep keharmonisan antara parahyangan (kedudukan hyang, yaitu Tuhan dan para batara-batari), pawongan (kedudukan wong, atau manusia), dan palemahan (kedudukan lemah, yaitu tanah dan apa-apa yang tumbuh, lahir, dan bertelur di atasnya) ini memang baru dirumuskan pada 11 November 1966 saat Konferensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali di Denpasar. Namun, bukan berarti Batara Siwa, Batara Ganesha, Batara Lempuyang, atau Batara Naga Besuki sebagai bagian dari parahyangan cuma dianggap sebagai simbol penghias tri hita karana. Orang Bali yakin mereka ada dan nyata, senyata bahwa manusia ada dan boleh mengada.
Sugi Lanus, kurator Museum Lontar di Karangasem, mengkritik keras pemikiran kiwari yang melihat batara-batari Hindu Bali sebagai simbol belaka. Orang luar boleh melihat mitologi Bali sebagai konstruksi simbol, tapi kalau cuma simbol, tidak mungkin orang Bali konsisten selama ratusan tahun melangsungkan seluruh seremoni agama dan adat yang menjaga lingkungan hidup Bali. Batara-batari itu bukan cuma doktrin agama, melainkan juga kebenaran yang dikonfirmasi oleh para sulinggih, jero mangku, dan orang-orang saleh lainnya di Bali.
Orang Sasak, tetangga orang Bali, lain lagi. Mereka memiliki konsep inen paer (inen itu inaq atau ibu; paer itu pahyaran-panggenan, tempat tinggal), yang kerap ditafsirkan sebagai ”ibu bumi”. Hal ini mengesankan orang Sasak meyakini alam sebagai entitas hidup yang kekuasaannya membayangi kekuasaan Tuhan, tapi itu bertentangan dengan fakta bahwa orang Sasak sedari mula memeluk monoteisme Islam, sehingga frasa inen paer lebih cocok diterjemahkan menjadi ”ibunya bumi”. Siapakah ”ibu”-nya si bumi? Siapa lagi kalau bukan Neneq Kaji Saq Kuase Allah Ta’ale. Tuhan yang Satu. Allah subhanahu wa ta’ala.
Dalam definisi inen paer tersebut, manusia bertinggal di alam, bahkan manunggal atau besopoq dengan alam, dengan Allah sebagai ”ibu” pemelihara. Manusia bukan penguasa, dan status sopoq (tunggal) itu membuat eksploitasi menjadi terlarang (melukai ini berarti melukai itu). Hal ini diyakini, diamalkan, dan terkonfirmasi dalam praktik. Bahkan sampai hari ini, di antara sepuh suku Sasak masih ada yang setia berbicara pada kelompok lebah bila ia ingin mengambil madunya. Kawanan lebah akan hijrah dari sarangnya sebagai tanda diizinkan, tapi bila hijrah tidak terjadi, ia akan tahu diri dan pergi mencari sarang lebah lain.
Siapakah yang menjembatani komunikasi itu? Tidak ada lain selain Allah, menurut keyakinan Sasak. Memang, dalam Islam, Allah itu (a) memenuhi segala sesuatu, (b) sebetulnya dijumpai di keseharian, dan (c) sesungguhnya selalu membersamai makhluknya (QS Fushilat, 54; QS Hadid, 4). Konsep inen paer takkan berdampak pada orang Sasak dan lingkungannya bila Allah dianggap simbol belaka.
Baca Juga: Andaikata Yogyakarta Punya Museum Sastra
Kebenaran Mitik dan Green Worldview
Mitos kerap diceritakan aspek logis atau fungsi sosialnya saja, sehingga daya sakral yang mungkin ada jadi tak terungkap. Uraian Pierre Vidal-Naquet, bahwa orang Yunani melihat agama mereka sebagai seremoni tanpa perlu meyakini kebenarannya, mungkin menarik, tapi agama-agama kuno Nusantara berbeda. Menyingkirkan kebenaran mitik akan merusak keseluruhan tatanan, yang berdampak pada runtuhnya sumber daya alam, seperti tercontoh sebelumnya.
Kebenaran mitik juga berdampak pada bahasa, dan, kemudian, pada worldview. Bahasa Potawatomi, misalnya, menurut Robin Wall Kimmerer, memiliki kata kerja khusus untuk makhluk hidup dan benda buatan. Contohnya wabdan (melihat, barang buatan) dan wabma (melihat, makhluk hidup). Barang buatan seperti pisau, atau piring menggunakan wabdan (ngi-wabdan bdakwi –saya melihat piring). Uniknya, batu, pohon, air, dan tanah dikategorikan makhluk hidup, sehingga kata kerjanya harus wabma (ngi-wabma nibi –saya melihat air).

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
