
ILUSRASI. (NINA/JAWA POS)
Suatu risalah panjang, sebuah wacana yang gemuruh. Pameran arsip sastra Azimat-Siasat pada perhelatan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024 memapar ancangan berkelanjutan akan adanya Museum Sastra Yogyakarta. Landasannya peribahasa wastra lungsed ing sampiran, pakaian lusuh di gantungan; bahwa arsip sastra Jogjakarta yang tidak ternilai harganya akan menjadi tidak berharga jika tidak diberi nilai. Sebab, dinamika sastra di Jogjakarta dari masa ke masa kiranya merupakan tunggul tajam dalam arena sastra Indonesia. Tidak hanya untuk dilirik, keping-keping sejarah sastra Jogjakarta menarik untuk ditilik dan dikritik. Dengan demikian, dibutuhkan kelindan jejaring dari ketersebaran keberadaan arsip sastra di Jogjakarta. Semua harus dicatat, semua dapat tempat, kata Chairil Anwar.
Pameran arsip sastra Azimat-Siasat dengan slogan Andaikata Yogyakarta Punya Museum Sastra menaja praktik kerja penjelajahan, pencatatan, edukasi, refleksi, ekspresi, rekreasi, dan resepsi atas keberadaan ruang-ruang singgah kekolektifan di Jogjakarta beserta segenap upaya relevansinya. Pameran itu sebisa mungkin menghadirkan arsip sastra (berbahasa) Indonesia maupun sastra (berbahasa) Jawa berupa majalah, koran, kliping, manuskrip, buku, foto, poster, surat, alat tulis, kaset, disket, audio-video, benda-benda memorabilia, hingga kode batang tautan laman yang semuanya merupakan patok-patok lini masa sastra di Jogjakarta sejak era awal kemerdekaan hingga mutakhir. Di sini, markah sastra sebagai markah budaya dari kenyataan peristiwa sosial yang terus berubah seturut narasi dan pengetahuan yang juga senantiasa bergerak, berupaya dimanifestasikan rancang rakit ordenya. Untuk itu, dibutuhkan fondasi, pijakan, dasar, asas, konstitusi, paugeran yang tetap agar arsitektur ruang yang dibangun dapat berdiri tegak kokoh sesuai angan dan keinginan: bisa menyintas masa lalu, masa kini, hingga kemungkinan-kemungkinan masa depan.
Peristiwa, narasi, dan estetika karya sastra di Jogjakarta mengalami kompleksitas dinamika yang khas. Hal tersebut karena keterlibatannya dengan realitas dan wacana tempat produksi dialektika sastra di antara keraton, kampung, kampus, komunitas, kamar, kafe, dan kanal media. Lokus-lokus tersebut menjadi pangkal pokok dalam menatap markah-markah sastra yang meskipun tampak kontras dengan sistem pemaknaan umum, namun dalam nalar kejogjaan saling terkait satu sama lain.
Yang justru jadi pertanyaan, mengandaikan berdirinya museum sastra, apakah mengesankan suatu fantasi surealis yang nyaris absurd? Siapa tahu. Tampaknya, perkara museum sastra memang suatu hal yang menggelisahkan, bahkan untuk sebagian berada dalam tatapan pesimistis, juga lebih dari itu: frustrasi.
Tetapi, mimpi adalah kunci. Setelah pameran arsip sastra Azimat Siasat paripurna pada 17 Oktober 2024, isu wacana mengenai museum sastra terus merebak. Cakupannya meluas dan tidak hanya di Jogjakarta. Sebagaimana kisi-kisi yang dituliskan Esha Tegar Putra dalam makalah untuk acara wicara sastra FKY 2024 dengan topik Andaikata Yogyakarta Punya Museum Sastra yang diperbincangkan bersama Muhidin M. Dahlan dan Raudal Tanjung Banua pada 16 Oktober 2024, akan adanya Museum Sastra Indonesia milik salah seorang pejabat publik cum kolektor. Di Indonesia akan ada museum sastra dengan isi yang pepak merepresentasikan dinamika kesastraan Indonesia dan tidak hanya menampilkan trajektori sastrawan semata.
Benar saja, diresmikan Fadli Zon pada 30 Oktober 2024, atau tepat sepuluh hari setelah dilantik menjadi menteri kebudayaan RI, Rumah Puisi Taufiq Ismail diperluas menjadi Museum Sastra Indonesia yang pertama dan satu-satunya di Indonesia (demikian kiranya bunyi yang tercetak dalam undangan). Selanjutnya, dalam rapat dengan Komisi X DPR pada 6 November 2024, Fadli Zon mengatakan kalau melalui Kementerian Kebudayaan, pemerintah berencana agar kelak mempunyai museum-museum yang lebih tematik. Hal tersebut seturut dengan tugas khusus dan roadmap Kementerian Kebudayaan, yakni menjadi salah satu haluan dalam pembangunan nasional sesuai amanat Pasal 32 UUD 1945 dan UU No 5 Tahun 2017; fasilitator ekosistem budaya bagi para pelaku budaya; pelestarian dan pelindungan cagar budaya melalui museum; diplomasi, promosi, dan pemanfaatan budaya; dan membuat data pokok kebudayaan. Bukan kebetulan jika wacana tentang keberadaan museum sastra sejalan dengan rencana Kementerian Kebudayaan. Ibarat gayung bersambut, kata besahut atau tumbu ketemu tutup; cocok!
Untuk sebuah museum sastra yang terpadu, sebenarnya Jogjakarta mempunyai peta sastra yang aktual dan faktual. Keberadaan arsip dan dokumentasi sastra di Jogjakarta yang dikumpulkan Ragil Suwarna Pragolapati, misalnya. Selain itu, oleh sastrawan-sastrawan lain, para akademisi, penerbit buku, perusahaan media, dan komunitas-komunitas merupakan modal museum sastra yang representatif. Dari situ tidak saja akan terbaca bagaimana lini masa perjalanan sastra di Jogjakarta, namun lebih luas dari itu. Yakni, dapat menjadi peta petunjuk membaca perjalanan sastra di Indonesia. Mengutip pernyataan Nirwan Dewanto dalam orasi budaya pembukaan pameran Azimat-Siasat, dengan nalar informalitas yang tidak ada dan tidak bisa digandakan di daerah lain, Jogjakarta memiliki kedudukan penting bagi kehidupan sastra maupun seni di Indonesia dan sebaliknya. Jogjakarta menjadi tempat transit sebagai ruang diaspora memungkinkan terciptanya hubungan ulang-alik antara Jogjakarta dengan Indonesia. Jogja-Indonesia Pulang-Pergi, kata Emha Ainun Nadjib.
Maka, dalam perencanaannya, Museum Sastra Yogyakarta mesti diarahkan berada dalam satu posisi yang lain, memiliki daya tawar. Hal utama yang ditimbang sebelum peluang pariwisata adalah soal edukasi dan kesejarahan hubungan antara Jogjakarta dengan Indonesia dan dunia global dalam bingkai kesastraan. (*)
Latief S. Nugraha, Pemrogram bidang sastra Festival Kebudayaan Yogyakarta 2024

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
