Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 13 Juli 2024 | 16.00 WIB

Biografi nan Hidup di Atas Panggung

ILUSTRASI. (BAGUS/JAWA POS)

Diawali suara anak-anak menyanyikan lagu Bungaku, suasana terasa riang dan menumbuhkan imajinasi indah. Lagu itu juga membuka ingatan pada seorang komponis muda yang begitu mencintai tanah airnya.

Selain lagu anak-anak, berderet lagu patriotik dan heroik diciptakannya. Sebab, sang komponis hidup di masa perlawanan terhadap kolonial Belanda dan Jepang. Masa ketika api revolusi membakar negerinya. Membakar jiwa dan kreativitasnya. Sang komponis itu tiada lain ialah Cornel Simanjuntak, komponis muda asal Pematang Siantar.

Ruang-Ruang Pemanggungan

Nyanyian anak-anak yang membuka pertunjukan berangsur menghilang. Tampak di pojok depan sebelah kiri panggung, seorang pemuda (Putu Alit Panca) tengah duduk di bawah nyala lampu meja. Suara nyanyian anak-anak tadi membangunkannya dari lamunan. Perlahan ia beranjak dari kursi, lantas mulai bercerita. Diiringi kepulan asap dan hadirnya berbagai objek gambar warna biru, yang berjalan pelan dalam layar putih. Pemuda itu seorang pencerita yang fasih dan atraktif membangun suasana. Sebuah adegan awal yang membius penonton untuk dibawa ke alam mimpi.

Perlahan adegan yang terasa magis itu memudar ketika objek gambar menghilang dari layar. Digantikan potret aktivitas siswa sekolah di dalam kelas dan suasana kota masa penjajahan Belanda. Layar hadir sebagai peranti penghantar gambar, foto, dan video untuk mendukung cerita. Selain itu, menjadi ruang untuk menghadirkan tokoh-tokoh yang diimajinasikan pencerita lewat siluet. Seperti tokoh ibu dan seorang penari.

Pemusik berada di level atas, tepat di belakang si pencerita. Ruang pemusik menjadi tafsir tersendiri. Mereka tak hanya sebagai pemusik ketika tubuh turut hadir dan bermain. Demikian juga para penyanyi yang acap kali tampil di tengah panggung depan layar. Mereka juga bagian ujung tombak yang membangun cerita dan suasana lewat lagu-lagu ciptaan Cornel, seperti Tanah Tumpah Darah, O Ale Alogo, Tjitra, dan Kemuning.

Sementara di sisi paling kanan panggung terdapat sebatang pohon. Di sanalah tokoh pencerita tua (Landung Simatupang) dihadirkan, meskipun sebentar tapi menguatkan khazanah kehidupan Cornel. Sebab, pencerita tua itu teman sekelas Cornel sewaktu di  Hollandsch Indische Kweekschool (HIK) atau sekolah keguruan Xaverius College di Muntilan, Jawa Tengah.

Ruang dan seluruh elemen panggung pertunjukan dikonsep dan ditata untuk menggulirkan biografi sang tokoh di atas panggung. Sejatinya banyak lapisan ruang di atas panggung pertunjukan. Penonton disuguhi banyak dimensi yang memuat makna, imaji, impresi, dan narasi tentang semesta kehidupan sang komponis.

Riwayat Kontroversi

Sastrawan Asrul Sani memprotes sikap Cornel perihal lagu-lagu propaganda Jepang yang diciptakannya. Di antaranya, lagu Menanam Padi dan Kapas serta Hancurkanlah Musuh Kita. Tak  hanya Asrul Sani, banyak teman lain memprotes dan bertanya-tanya. Seperti Binsar Sitompul, penulis buku C. Simanjuntak: Komponis, Penyanyi, Pejuang, sahabat dekat Cornel, turut memprotesnya. Banyak versi jawaban terkait sikap kolaborasi tersebut. Semua versi jawaban terasa bertentangan dengan semangat nasionalisme. Jawaban yang tetap saja mengundang kontroversi.

Orang menerka Cornel bekerja sama dengan Jepang sebatas kerja profesional atau mungkin mencari ruang ekspresi agar tetap bisa menyalurkan ide kreativitasnya. Dalam satu adegan muncul tokoh Hersri Setiawan yang diperankan Irfanuddien Gozali, menjelaskan bahwa sikap Cornel tersebut untuk mendidik rakyat agar lebih mengenal notasi do re mi fa sol la si do. Supaya karya-karyanya dapat menyebar secara luas dan dapat dipelajari masyarakat.

Sebenarnya tak hanya Cornel yang berkolaborasi dengan Jepang, tapi juga dilakukan para tokoh politik maupun tokoh masyarakat seperti Soekarno, Hatta, dan Hamka. Konon katanya Soekarno pernah berkata: Aku akan bekerja sama dengan siapa pun untuk kemerdekaan negeriku. Bahkan dengan iblis sekalipun! Setiap tokoh mempunyai argumentasi berbeda-beda untuk mengklarifikasi. Meski demikian, para tokoh tersebut tetap dianggap sebagai pejuang bagi bangsanya. Cornel tetap seorang pejuang. Selain mencipta lagu, ia turut angkat senjata berperang melawan penjajah. Begitulah ciri orang-orang besar: mereka mempunyai riwayat kontroversi.

Kekuatan Kreativitas

Selincam Cornel Simanjuntak merupakan pergelaran teater yang disutradarai aktor Landung Simatupang, berkolaborasi dengan Bagus Mazasupa sebagai music director dan Asriuni Pradipta sebagai vocal director. Pementasan yang digelar bulan lalu (4/6) itu berlangsung di Concert Hall Taman Budaya Jogjakarta.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore