Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Februari 2024 | 15.38 WIB

Permainan Kata Komedian Peang-Penjol

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Banyumas dan kelucuan adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Banyumasan, sebagai sebuah entitas kultural, memang lucu. Mendengar bahasa yang digunakan sehari-hari di wilayah ini, yang oleh orang luar disebut sebagai bahasa Ngapak, orang sudah tertawa terpingkal-pingkal. Dianggap norak dan terlalu kampungan.

TAK mengherankan jika terdapat beberapa komedian yang mengeksploitasi bahasa Banyumasan sebagai bahan lawakan mereka. Bisa disebutkan, misalnya, Kasino dan Parto. Melalui dua komedian tersebut, bahasa Banyumasan berhasil menasional dan dikenal banyak orang.

Jauh sebelum Kasino dan Parto populer dengan lawakan berbahasa Banyumasan, di tlatah Banyumas sendiri bahasa tersebut dalam keseharian juga telah dipakai sebagai alat lelucon. Secara umum, orang Banyumas memang kental dengan kelucuan ketika berdialog. Hal tersebut tergambar dalam salah satu tokoh wayang Punakawan Bawor.

Tokoh Bawor hanya muncul dalam seni pedalangan bergaya Banyumasan, yang merupakan pengganti dari tokoh Bagong untuk pedalangan bergaya Solo dan Jogjakarta. Sifat riang gembira keseharian orang Banyumas muncul pula dalam kelompok komedian Peang-Penjol yang populer pada akhir 1970-an sampai 1980-an.

Tingginya popularitas komedian Peang-Penjol di kawasan Banyumas tidak bisa dilepaskan dari peran Radio Republik Indonesia (RRI) Purwokerto, yang bisa dikatakan merupakan sumber hiburan utama warga pedesaan pada saat itu. Ia tidak hanya muncul dalam acara utama, namun juga dalam iklan-iklan.

Tokoh utamanya adalah Peang, yang bersaudara dengan Penjol, dan ditemani satu tokoh perempuan bernama Suliyah. Tiga komedian saling mengisi dalam bentuk celetukan berbahasa Banyumasan. Kelucuan yang mereka ciptakan bersumber dari eksplorasi budaya Banyumas yang blaka-suta atau apa adanya dan gaya bicara yang ceplas-ceplos.

Secara umum, tema lawakan mereka berkisar keseharian aktivitas warga pedesaan. Namun, jika dicermati dengan baik ternyata terdapat pula tema yang mengacu pada hubungan sosial di perkotaan. Kota yang dimaksud dalam lawakan Peang-Penjol tentu saja Kota Purwokerto, yang merupakan kota terbesar di Banyumas.

Kekuatan lain dari lawakan Peang-Penjol adalah kemahiran dalam memainkan kata, bukan pada permainan fisik untuk memancing ketawa. Hal ini berbeda dengan para pelawak Srimulat yang dikenal sebagai komedian slapstick. Peang-Penjol merupakan pelawak yang lebih menonjolkan suara karena mereka bukanlah pelawak panggung, melainkan pelawak radio dan kaset.

Bahasa menjadi kekuatan mereka untuk mengundang tawa pendengar. Pelawak semacam ini membutuhkan kecerdasan yang lebih tinggi, terutama untuk mencari kata-kata yang pas yang bisa membangkitkan minat untuk tertawa bagi yang mendengarkan. Srimulat yang dikenal sebagai pelawak panggung dan televisi memiliki trik yang cukup banyak karena audiens mereka bukan hanya telinga, melainkan juga mata. Gerakan-gerakan fisik bisa menopang mereka untuk menciptakan kelucuan dan mengundang tawa.

Salah satu trik yang digunakan Peang-Penjol adalah memanfaatkan perbedaan pemaknaan bahasa atau kata antara dua orang yang berbeda pengetahuan atas bahasa tersebut. Salah satu contoh adalah percakapan Peang dengan seorang Tionghoa yang baru datang dari Hongkong (diperankan Penjol) dalam kaset yang berjudul Salah Paham.

Percakapan mereka yang semula datar namun membuat mereka berdua pusing lama-lama berubah menjadi pertengkaran. Pasalnya, percakapan mereka tidak nyambung karena Peang tidak bisa berbahasa Indonesia, sementara si Tionghoa tidak bisa berbahasa Banyumasan. Berbahasa Indonesia namun dengan logat Tiongkok.

Peang yang membawa ayam untuk dijual ke pasar ditanya si Tionghoa… ”Mang…mang itu ayam ya?” Dijawab Peang dengan bahasa Banyumasan: ”Iya kiye ayam, arep tuku apa?” (Iya betul ini ayam, apakah kamu mau membelinya?). Tiba-tiba si Tionghoa bertanya lagi: ”Ayam di lumah (pen: di rumah) banyak?” Kata di lumah itulah yang bikin pertengkaran. Menurut Peang, di lumah itu ditelentangkan, tetapi maksud si Tionghoa bukan itu. Suara pertengkaran antara dua orang berbeda pemahaman itu memancing ketawa bagi yang mendengarkan. Amat lucu karena salah satu pihak menggunakan bahasa campur aduk, Banyumasan dan bahasa Indonesia berlogat Tionghoa.

Arthur Asa Berger, ahli humor dari San Francisco State University, menyatakan bahwa paling tidak ada sebelas teknik atau strategi penciptaan humor melalui bahasa. Dari sebelas tersebut, paling tidak terdapat tiga teknik yang sering dimainkan Peang-Penjol, yaitu misunderstanding (salah penafsiran), pun (permainan kata), dan ridicule (membuat orang bodoh).

Komedian kontemporer yang memiliki teknik mirip Peang-Penjol adalah Komeng dan Cak Lontong. Komeng memiliki teknik permainan makna kata serta pelesetan. Kata yang sama bisa digunakan untuk memaknai dua kalimat yang berbeda. Dengan cara mengubah-ubah makna kata, ia memancing tawa penonton. Hal yang mirip dilakukan Cak Lontong, komedian dari Kota Surabaya. Ia merupakan komedian paling cerdas saat ini yang sering menggunakan teknik permainan kata.

Teknik yang dilakukan Cak Lontong juga mirip yang dilakukan Peang-Penjol, yaitu dengan metode pun atau permainan kata. Banyak orang mengategorikan permainan kata yang dilakukan Cak Lontong menggunakan metode silogisme. Menarik kesimpulan yang berasal dari dua premis atau proposisi. Kesimpulan yang dilontarkan Cak Lontong yang menjadi kekuatan untuk memancing tawa karena antara logis dan tidak logis.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore