Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Juni 2025 | 04.04 WIB

Menag Nasaruddin: Dokter Haji Indonesia Kini Boleh Rawat Jemaah di Klinik Sendiri

Menag Nasaruddin Umar (kiri) dan Menteri Haji dan Umroh Mochamad Irfan Yusuf. (MCH 2025) - Image

Menag Nasaruddin Umar (kiri) dan Menteri Haji dan Umroh Mochamad Irfan Yusuf. (MCH 2025)

JawaPos.com – Kesibukan jelang puncak haji semakin memuncak. Di tengah persiapan besar menuju Arafah, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar membawa kabar penting dari pertemuan dengan Menteri Haji dan Menteri Kesehatan Arab Saudi di Jeddah, Minggu (1/6).

“Alhamdulillah, tadi terjadi kesepakatan. Menteri Kesehatan Arab Saudi (Fahad Abdulrahman AlJalajel) memberikan kewenangan tertentu terhadap jemaah haji Indonesia untuk melibatkan dokter Indonesia melakukan pengobatan di kliniknya,” ujar Menag.

Sebelumnya, banyak jemaah yang harus langsung dirujuk ke rumah sakit Saudi saat sakit, padahal sebagian besar merasa tidak nyaman karena kendala bahasa.

“Pertama ada kesulitan bahasa, jangankan bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Indonesia pun sebagian mereka itu tidak paham harus menggunakan bahasa lokal. Nah, di sana itu kan sulit,” jelas Nasaruddin. Akibatnya, tak sedikit jemaah yang menahan sakit demi menghindari stres berurusan tanpa pendamping di rumah sakit asing.

Kesepakatan ini menjadi angin segar. Kini, dokter-dokter Indonesia yang tergabung dalam tim kesehatan haji diperbolehkan memberikan perawatan langsung di klinik-klinik yang disediakan. Langkah ini diyakini bisa mengurangi jumlah jemaah yang menunda perawatan, sekaligus meningkatkan keamanan dan kenyamanan mereka saat melaksanakan ibadah.

Selain isu kesehatan, Menag juga menyampaikan imbauan penting dari pertemuan dengan Menteri Haji Saudi.

“Diharapkan seluruhnya itu jangan ada yang keluar kemah dan jangan ada yang pergi ke Jabal Rahmah, karena itu sangat berbahaya, karena panasnya sangat tinggi,” ujarnya. Suhu di Tanah Suci diperkirakan bisa tembus 50°C, yang sangat berisiko bagi kesehatan jemaah, terutama lansia dan yang memiliki komorbid.

Ia juga mengingatkan agar para pimpinan kloter di semua tingkat mematuhi peraturan yang telah ditetapkan pemerintah Saudi.

“Mereka menganjurkan kepada seluruh pimpinan-pimpinan tertinggi sampai unit-unit lokal pada setiap rombongannya itu, mengarahkan jemaahnya untuk mengikuti peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Saudi Arabia, khususnya Menteri Haji,” tegasnya.

Kekhawatiran soal angka wafat juga menjadi sorotan. Menteri Kesehatan Saudi, kata Menag, mempertanyakan detail soal jumlah dokter, perawat, dan mekanisme penyeleksian kesehatan jemaah Indonesia sebelum keberangkatan.

“Menteri Kesehatan ini sangat prihatin ya, banyaknya jumlah yang wafat ya, terutama di Indonesia,” ujar Nasaruddin.

Namun, Menag menekankan bahwa tim kesehatan Indonesia telah menjelaskan semua mekanisme yang ada, termasuk kesiapan tim medis dan layanan lapangan. Ke depannya, ia menilai catatan-catatan dari pihak Saudi ini akan menjadi bahan introspeksi penting untuk menyempurnakan pelayanan haji.

“Saya berharap nanti insyaallah catatan-catatan yang diberikan kepada kita ini akan menjadi pembelajaran untuk tahun-tahun akan datang,” tutupnya.

Dengan kesepakatan penting ini, jemaah Indonesia mendapat tambahan perlindungan layanan kesehatan. Di tengah suhu ekstrem dan kondisi ibadah yang menantang, setiap langkah kecil menjadi kunci besar untuk keselamatan dan kelancaran ibadah. Semoga seluruh jemaah dapat menjalankan puncak haji dengan aman, nyaman, dan pulang membawa predikat mabrur.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore