Julmiati, 70, (kerudung hitam) dari Embarkasi UPG Kloter 3 merupakan salah satu jemaah haji lansia yang menggunakan skema murur. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)
JawaPos.com – Wukuf di Arafah tinggal hitungan hari. Direncanakan berlangsung Kamis, 5 Juni 2025, puncak ibadah haji ini kini mulai dipersiapkan dengan matang. Termasuk untuk jemaah lanjut usia (lansia), risiko tinggi (risti), maupun disabilitas yang akan melaksanakan skema murur.
Pantauan JawaPos.com di hotel Al Rashed Al Shesha, kamar-kamar jemaah kini sudah ditempeli catatan khusus dengan spidol biru bertuliskan siapa saja yang akan mengikuti murur. Ini adalah bagian dari pendataan yang digencarkan agar pelaksanaan murur berjalan tertib dan sesuai syariat.
Sebagai catatan, murur adalah skema mabit dengan cara melintas di Muzdalifah. Jemaah diberangkatkan dari Arafah setelah magrib, melintas Muzdalifah tanpa turun dari bus, lalu menuju Mina. Skema ini diberikan khusus bagi jemaah lansia, risti, dan disabilitas demi menjaga kesehatan mereka.
Salah satu jemaah yang terdata adalah Julmiati, 70, dari Embarkasi UPG Kloter 3. Dengan wajah berbinar, Julmiati mengaku sudah paham tentang apa itu murur. “Sudah dikasih tahu. Iya tahu, tetap sah,” katanya mantap.
Ditanya soal perasaannya menyongsong puncak haji, Julmiati menjawab singkat, “Senang. Senang sekali. Memang untuk itu ke sini".
Petugas Bimbingan Ibadah (Bimbad) Embarkasi UPG Kloter 3, Nuraeda, memastikan sosialisasi terkait murur sudah dilakukan jauh hari.
“Sejak di tanah air, sampai di Madinah, lalu di Makkah, selalu kami edukasikan mana yang bisa masuk program murur, mana yang tidak,” jelasnya.
Sosialisasi dilakukan lewat door-to-door ke kamar-kamar maupun manasik kelompok. Menurut Nuraeda, banyak jemaah awalnya bertanya-tanya, apakah haji mereka sah jika ikut murur.
“Biasanya saya jelaskan dengan merujuk buku manasik Kementerian Agama agar mereka yakin,” ujarnya.
Pendataan murur pun dilakukan ketat, dengan basis awal hasil pemeriksaan kesehatan (MCU). “Kadang ada jemaah yang minta ikut murur karena tidak mau jalan kaki, tapi kami cek ulang bersama tim medis apakah memang layak atau tidak,” tegas Nuraeda.
Dari sisi medis, Tenaga Kesehatan Haji (TKH) Embarkasi UPG Kloter 3, dr Fadhiel Abd Walid, mengatakan pihaknya ingin memastikan seluruh jemaah mendapat layanan optimal di Armuzna, termasuk yang ikut murur.
Soal berapa banyak yang akan menggunakan murur, dia belum bisa menjawab. Sebab, proses pendataan masih berlangsung. “Sampai hari ini masih simulasi, jumlah pastinya belum diputuskan, karena belum semua jemaah tiba di Makkah,” ungkap Fadhiel.
Untuk informasi, keberangkatan gelombang kedua calon jemaah haji dari embarkasi di Indonesia masih berlangsung hingga Sabtu (31/5). Beberapa kloter juga akan mendarat di Jeddah, pada Minggu dini hari.
Menurut dr Fadhiel, salah satu dasar utama menentukan jemaah yang akan ikut murur adalah riwayat penyakit yang sudah tercatat sejak di Indonesia. Data medis seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung menjadi pegangan penting.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
