
Kaseksus Bir Ali, Muhammad. (MCH 2025)
JawaPos.com – Di antara lalu lintas padat bus jemaah haji yang memasuki kawasan miqat Bir Ali, para petugas haji Indonesia tetap siaga. Mereka berdiri di setiap pintu masuk, toilet, sisi jalan, hingga area masjid.
Memastikan seluruh jemaah haji Indonesia dapat menunaikan niat ihram dengan tertib, aman, dan sesuai syariat. Tidak mengenal shift kerja, mereka bertugas dari pukul 06.00 pagi hingga malam, baru pulang jika seluruh jemaah sudah selesai.
“Pokoknya begitu jamaah Indonesia udah selesai, baru kita bisa pulang,” ujar Dasrizal M. Nainin, salah satu petugas di Sektor Bir Ali, Kamis (23/5).
Dasrizal bukan petugas biasa. Ia adalah dosen UIN Syarif Hidayatullah sekaligus mahasiswa doktoral di Universitas King Abdul Aziz Jeddah, yang dikenal sebagai qori berprestasi internasional.
Bersama 16 petugas lainnya, termasuk dua perempuan, ia bekerja tanpa keluhan. “Kita niatnya lillahi ta’ala, insya Allah. Kalau nggak gitu, pasti berasa capek,” ucapnya.
Petugas terbagi di seluruh titik penting di Bir Ali: depan, samping, belakang, bahkan area toilet. Keberadaan mereka menjadi penyejuk hati jemaah yang mungkin sempat bingung berada di negeri asing.
Menurut Kepala Sektor Bir Ali, Muhammad, selama proses miqot gelombang pertama ini, tidak ada kendala berarti. “Operasional di Sektor Bir Ali berjalan aman dan lancar,” kata ASN Kementerian Agama tersebut.
Ia juga mengungkap bahwa Indonesia menjadi satu-satunya negara yang mendapat kantor operasional gratis di Bir Ali, sebagai bentuk penghargaan dari Pemerintah Arab Saudi.
“Dulu kita sewa, sekarang difasilitasi penuh, dan hanya Indonesia yang mendapatkannya,” ungkapnya.
Bir Ali bukan tempat yang sederhana. Kawasannya luas, akses masuk dan keluar banyak, serta suhu bisa mencapai 43 derajat Celsius.
Namun, di tengah tantangan itu, semangat para jemaah tetap tinggi, termasuk lansia dan disabilitas yang bersikeras ingin salat sunnah dua rakaat di masjid. “Kalau memang mau turun, kita bantu dengan kursi roda. Keyakinan mereka kuat ingin salat di masjid,” kata Muhammad.
Padahal, petugas sudah mengimbau agar jemaah berisiko tinggi (risti) cukup berniat dan salat sunnah di atas bus saja. Risiko fisik terlalu besar jika dipaksakan. Bahkan, sempat terjadi satu kasus jemaah risti pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit terdekat.
Meski demikian, petugas tak pernah menolak permintaan. Selalu ada solusi. Arab Saudi juga menyediakan mobil golf keliling untuk membantu mobilitas jemaah dari titik drop-off ke masjid dan sebaliknya.
Pelayanan petugas tidak hanya teknis. Keberadaan mereka memberi rasa aman bagi jemaah. “Ketemu orang Indonesia itu bikin tenang. Jemaah diarahkan langsung ke masjid, mereka merasa nyaman,” jelas Muhammad.
Banyak jemaah yang bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia, karena berasal dari daerah tertentu, merasa lebih percaya diri begitu melihat seragam petugas PPIH.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
