Calon jemaah haji Indonesia saat di Bir Ali. Mereka sudah mengenakan kain ihram dari hotel untuk mempercepat proses. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)
JawaPos.com – Tahap penting dalam rangkaian ibadah haji 2025 mulai berlangsung hari ini, Sabtu (10/5). Untuk pertama kalinya, calon jemaah haji Indonesia bergerak dari Madinah menuju Makkah. Kloter JKG 1 asal Jakarta menjadi rombongan perdana yang melakukan miqat di Masjid Dzulhulaifah atau Bir Ali, tempat dimulainya niat ihram sebelum memasuki Tanah Haram.
Perjalanan ini bukan hanya simbol dimulainya fase baru, tetapi juga menguji ketahanan fisik para jemaah, terutama yang lanjut usia, di tengah suhu udara yang sangat panas dan berdebu kering. Pada Sabtu siang, suhu di Madinah dan Makkah sama-sama mencapai 41 derajat Celsius, dengan udara kering dan kelembapan di bawah 20 persen.
Berdasarkan data Siskohat Kementerian Agama, hingga Sabtu (10/5) pukul 14.30 waktu Arab Saudi atau sekitar pukul 19.00 WIB, telah tiba 168 kloter dari total 525 yang direncanakan.
Artinya, 32 persen kloter sudah mendarat di Tanah Suci. Total jemaah yang telah diberangkatkan mencapai 65.349 orang, atau 32,14 persen dari kuota nasional.
Yang patut menjadi perhatian, dari jumlah tersebut 14.037 jemaah merupakan lansia. Itu berarti 21,48 persen dari total jemaah yang telah tiba adalah kelompok lanjut usia, sebuah angka yang tinggi dan memerlukan penanganan lebih hati-hati, terutama di cuaca ekstrem seperti saat ini.
Hari ini saja, hingga pukul 14.30 WAS, sudah 15 kloter diberangkatkan dengan total 5.798 jemaah, termasuk 1.267 lansia.
Penerbangan dimulai dari BPN 3 (Balikpapan) dengan Garuda Indonesia GA 4103 yang lepas landas pukul 00.00 WAS, dan dijadwalkan diakhiri oleh SOC 35 (Solo) GA 6135 pukul 23.00 WAS atau sekitar pukul 03.00 WIB.
Sementara itu, jumlah jemaah wafat tercatat dua orang, yakni Daimah dari Banjarnegara dan Nur Fadillah dari Sidoarjo.
Berdasarkan prakiraan cuaca dari The Weather Channel, siang ini suhu di Madinah dan Makkah sama-sama mencapai 41 derajat Celsius, dengan puncak panas di angka 42°C.
Artinya, tubuh terasa langsung dibakar saat berada di bawah terik matahari. Kelembapan udara sangat rendah: 7 persen di Madinah dan 15 persen di Makkah, menjadikan udara sangat kering, yang dapat menyebabkan dehidrasi dan kulit pecah-pecah jika tidak dilindungi dengan baik.
Di Madinah, angin bertiup dari arah timur dengan kecepatan 16 km/jam, indeks UV mencapai 8 dari 11, masuk kategori sangat tinggi. Paparan sinar matahari pada level ini bisa menyebabkan kulit terbakar hanya dalam 15–20 menit tanpa perlindungan.
Suhu malam hari juga tetap tinggi, yakni 30 derajat di Madinah dan 31 derajat di Makkah. Ini menunjukkan bahwa tubuh jemaah tetap terpapar suhu hangat sepanjang hari, sehingga waktu istirahat malam pun bisa terasa gerah.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah, terutama bagi yang mulai bergerak ke Makkah untuk menjalani rangkaian ibadah utama seperti tawaf, sa’i, dan wukuf dalam waktu dekat.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
