Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 April 2025 | 17.54 WIB

Kurangi Kepadatan Mina, Jemaah Haji Bisa Bermalam di Hotel Sekitar Jamarat dan Dipastikan Tetap Sah Mabit

Suasana mabit di Muzdalifah. (BPKH) - Image

Suasana mabit di Muzdalifah. (BPKH)

JawaPos.com – Pemerintah melalui Kementerian Agama terus mencari terobosan untuk mengatasi kepadatan ekstrem di Mina saat puncak haji. Salah satu skenario yang dipersiapkan tahun ini adalah tanazul, yaitu menginapkan sebagian jemaah haji di hotel sekitar Jamarat saat bermalam di Mina (mabit), sebagai alternatif dari tenda-tenda yang selama ini selalu penuh sesak.

Plt. Inspektur Jenderal Kemenag Faisal Ali Hasyim menjelaskan bahwa skenario ini disiapkan sebagai respons dari evaluasi haji tahun lalu.

“Tahun lalu memang masih ada masalah kepadatan di Mina. Tempatnya terbatas dari dulu, dan tidak mungkin ditambah. Maka tahun ini kita siapkan solusi tanazul,” ujar Faisal dalam Bimtek PPIH 2025 di Asrama Haji Pondok Gede, Kamis (17/4).

Sebanyak 38 ribu jemaah haji ditargetkan mengikuti skema ini. Mereka tetap menjalankan mabit di Mina, tapi tidak bermalam di tenda, melainkan di hotel yang letaknya berada di sekitar area Jamarat, tempat melempar jumrah.

“Hotel-hotel itu sudah kami cek, dan siap digunakan. Mereka tetap mengikuti mabit sesuai ketentuan, hanya lokasinya yang berbeda untuk mengurangi tekanan di tenda-tenda Mina,” jelas Faisal.

Mabit di Mina merupakan rangkaian wajib ibadah Haji. Mabit adalah bermalam di Mina selama tiga malam, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah, setelah melakukan wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah.

lebih lanjut dia menjelaskan, skenario tanazul bukan hanya strategi logistik. Tapi juga bentuk perlindungan dan kenyamanan bagi jemaah, terutama yang lansia dan berisiko tinggi. Dengan distribusi yang lebih merata, kondisi di tenda Mina diharapkan tidak lagi sepadat tahun-tahun sebelumnya.

Sebagai informasi, pada musim haji 2024 lalu, pemerintah menggunakan skema Murur. Yakni, perjalanan jemaah haji yang melintas Muzdalifah tanpa berhenti dan bermalam di sana.

Meksi proses di Musdalifah berlangsung lebih baik, kata Faisal, tetapi kepadatan di Mina masih menjadi catatan penting. Dengan tanazul, diharapkan pergerakan jemaah menjadi lebih lancar, terutama saat puncak ibadah lempar jumrah yang sering menjadi titik kemacetan dan kelelahan massal.

Kemenag juga memastikan bahwa semua skenario ini sudah tertuang dalam kontrak layanan, termasuk kesiapan akomodasi, transportasi, serta pengaturan petugas di lapangan. “Kami kawal seluruh kontrak, semua penyedia jasa sudah terikat sanksi kalau wanprestasi,” tegasnya.

Dengan skema tanazul ini, diharapkan pelaksanaan haji 2025 menjadi lebih tertib, aman, dan manusiawi. Apalagi target utama dari seluruh rangkaian layanan ini adalah satu: kepuasan jemaah haji meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore