Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Juni 2024 | 17.15 WIB

Jadwal Penerbangan 46 Kloter Jamaah Haji Berubah, Kemenag Sebut Garuda Indonesia Lambat

Ilustrasi jemaah haji menumpang pesawat Garuda Indonesia

JawaPos.com - Direktur Layanan Haji dalam Negeri Saiful Mujab membantah klaim Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Saputra bahwa kegagalan mendapat slot karena ada perubahan kebijakan Arab Saudi. Menurutnya, kegagalan itu disebabkan Garuda Indonesia lambat mengajukan jadwal penerbangan ke GACA.
 
Sebanyak 46 kelompok terbang (kloter) jamaah haji Indonesia yang berangkat pada gelombang I berubah rute penerbangannya. Sekitar 20.000 jamaah yang seharusnya pulang melalui Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah, harus pulang melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah. Akibatnya, jamaah harus menempuh perjalanan darat cukup jauh dan melelahkan.
 
"Terkait perubahan rute kepulangan 46 kloter, sejak awal Garuda Indonesia memang telat dalam mengajukan jadwal penerbangan ke GACA," kata Mujab, Jumat (28/6).
 
 
Menurutnya, kontrak kerja Garuda dengan Kemenag sudah dilakukan sejak awal. Dalam kontrak tersebut juga sudah diatur rute penerbangan jamaah, baik gelombang I maupun gelombang II. Gelombang I jemaah pulang melalui Jeddah dan Gelombang II melalui Madinah.
 
"Saya heran Garuda malah beralasan dengan perubahan kebijakan Saudi. Padahal mereka memang terlambat mengajukan slot time," kata Mujab.
 
"Jadi perubahan slot 46 kloter itu ya karena Garuda lambat dalam proses koordinasi dengan otoritas Saudi. Ditambah lagi ada pesawat yang tidak siap terbang," tegasnya.
 
 
Kurang sigapnya kinerja Garuda Indonesia, lanjut Mujab, diperparah dengan masalah delay atau keterlambatan pesawat. Sepekan pemulangan jamaah haji, Garuda telah mengangkut 50 kloter. Dari proses itu, setidaknya delay penerbangan lebih dari 2 jam dialami tujuh kloter, yaitu SOC 6, UPG 2, KNO 2, KNO 3, JKS 8, PDG 3, dan SOC 16. Paling parah adalah yang menimpa jamaah kloter 3 Embarkasi Kualanamu (KNO 03) yang delay 12 jam 30 menit. 
 
"Delay sampai 12 jam tanpa pemberitahuan yang semestinya. Semua diinfo secara mendadak. Bahkan, jamaah sudah naik bus dari hotel menuju bandara, baru diinfo kalau pesawat terlambat," ujar Mujab.
 
"Hal ini berdampak sistemik, karena terkait hotel transit yang juga sudah ada kloter berikutnya yang akan menempati hotel yang sama. Akibat masalah Garuda ini juga, akhirnya jemaah yang dirugikan. On Time Performance atau OTP-nya sangat buruk," sambungnya.
 
 
Data yang tercatat di Kemenag, dari 50 penerbangan 2 kloter lebih cepat, 20 kloter tepat waktu, 8 kloter terlambat 30 menit sampai dengan 1 jam, 13 kloter terlambat 1 sampai 2 jam, dan 7 kloter terlambat lebih dari 2 jam.
 
Mujab berharap Garuda Indonesia fokus pada upaya perbaikan kinerja pada sisa penerbangan pemulangan jamaah haji Indonesia. Pastikan pesawat dan kru siap bertugas. Sehingga potensi terjadinya keterlambatan atau delay penerbangan tidak terulang.
 
"Kasihan jamaah kalau Garuda delay terus. Saya harap Garuda fokus saja pada perbaikan kinerja. Layani jamaah haji Indonesia dengan baik dengan tidak membuat jadwal penerbangan delay," tandasnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore