Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 September 2026 | 21.56 WIB

Rupiah Berpotensi Tertekan hingga Rp18.000 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya

Karyawan menghitung mata uang asing di di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Karyawan menghitung mata uang asing di di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah berpeluang kembali tertekan hingga menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan depan.

Pengamat Ekonomi dan Komoditas Ibrahim Assuaibi melihat sentimen dari kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) serta ketidakpastian kebijakan di Negeri Paman Sam masih membayangi pergerakan rupiah.

“Gonjang-ganjing geopolitik, gonjang-ganjing kebijakan perpolitikan di Amerika, gonjang-ganjing kebijakan Bank Central America yang diintervensi oleh Trump, ada kemungkinan besar rupiah ini akan kembali di atas Rp 18.000," ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima, Minggu (20/9).

Ibrahim menjelaskan, pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Menurutnya, terdapat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir tahun. Namun, di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mendorong agar suku bunga dapat diturunkan secara signifikan ke depan.

“Walaupun kemarin Bank Sentral Amerika dari 18 deputi, 16 menginginkan menaikkan suku bunga dan menaikkan suku bunga 25 basis point, ada harapan bahwa dalam pertemuan sampai akhir Desember akan menaikkan suku bunga lagi 25 basis point,” jelasnya.

Ibrahim menilai perbedaan pandangan mengenai arah kebijakan suku bunga tersebut dapat meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Kondisi itu berpotensi memengaruhi pergerakan aset-aset keuangan, termasuk nilai tukar rupiah.

“Trump menginginkan bahwa saat ini boleh menaikkan suku bunga tetapi ke depan menurunkan suku bunga di atas 100 basis point,” ujarnya.

Selain kebijakan moneter AS, Ibrahim melihat investor juga masih mencermati perkembangan geopolitik global. Ketidakpastian tersebut mendorong sebagian pelaku pasar kembali mengalihkan dana ke aset lindung nilai seperti emas.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore