
Ilustrasi Fintech. (unair.ac.id)
JawaPos.com - Risiko fraud menjadi ancaman nyata bagi perbankan dan perusahaan fintech. Penggunaan teknologi AI dianggap bisa membantu menekan risiko terjadinya fraud.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat, jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 221,56 juta, dengan tingkat penetrasi internet sebesar 79,5 persen. Data ini diiringi pertumbuhan transaksi keuangan digital.
Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,15 miliar transaksi pada April 2026, naik 42,86 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, volume transaksi melalui aplikasi mobile dan internet masing-masing tumbuh sebesar 15,92 persen dan 22,95 persen, sementara transaksi QRIS tumbuh 108,43 persen secara tahunan.
Mirisnya, data Indonesia AntiScam Centre (IASC) di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerima 579.459 laporan penipuan transaksi keuangan selama periode 22 November 2024 hingga 31 Mei 2026. Dari laporan itu, sebanyak 998.558 rekening dilaporkan dan 515.553 rekening diblokir, dengan dana korban sebesar Rp 638,9 miliar berhasil diblokir.
Berkaca dari data tersebut, perbankan dan fintech perlu membangun sistem pencegahan dini yang kuat. Dengan begitu, risiko terjadinya fraud bisa ditekan.
Banking Fraud Risk Technology Practitioner, Bayu Hasdianto mengatakan, transaksi digital saat ini berjalan begitu cepat. Semakin cepat sinyal risiko dideteksi, maka potensi bank mencegah kerugian bisa lebih besar.
“Bank menghadapi pola fraud yang terus berkembang, mulai dari social engineering dan account takeover hingga penyalahgunaan kanal digital. Karena itu, fraud management system perlu mampu membaca risiko dari berbagai sumber, termasuk transaksi, perilaku nasabah, perangkat, dan kanal yang digunakan," kata Bayu, Jumat (3/7).
Sementara, Deputy Vice President, Business Development, Product, and Partnerships, M2P Fintech, Madhusudhan Ramakrishnan menambahkan, teknologi pencegahan fraud perlu membantu lembaga keuangan mengambil keputusan yang lebih cepat dan terukur.
“Bank dan perusahaan fintech membutuhkan sistem yang tidak hanya menghasilkan peringatan, tetapi juga membantu tim memahami konteks di balik setiap risiko. AI dapat memperkuat proses ini, mulai dari deteksi anomali dan penilaian risiko hingga prioritisasi respons dan pembelajaran dari kasus sebelumnya. Dengan sistem yang terintegrasi, fraud management dapat menjadi lebih proaktif, akurat, dan relevan dengan kebutuhan bisnis,” ujar Madhusudhan.

Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Pasar Taruhan Dunia Jagokan La Furia Roja, Ronaldo Siap Balas Rekor Buruk
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia: Bursa Taruhan Dunia Ramalkan Imbang, Red Devils Unggul Head to Head
Dijanjikan Gaji Rp 1,4 Juta Hanya Cair Rp 76 Ribu, Kopdes Merah Putih di Bojonegoro Pilih Tutup
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026: Lionel Messi vs Mohamed Salah, Albiceleste Diunggulkan ke Perempat Final
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia di Piala Dunia 2026: Setan Merah Diunggulkan Kirim Pulang Tuan Rumah
Kontroversial! Wasit Inggris Anthony Taylor Pimpin Portugal vs Spanyol di Piala Dunia 2026, Rekam Jejak Jadi Sorotan
Daftar 32 Negara Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Dirilis Iran, Indonesia Tak Masuk, Warganet Bertanya-tanya
Arogan Tonjok Pengendara di Jalan Jagakarsa, 'Bang Jago' Tak Berdaya Ditangkap di Rumahnya
Prediksi Swiss vs Kolombia di 16 Besar Piala Dunia 2026: Sesumbar De Nati Andalkan Manzambi
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia di Piala Dunia 2026: Setan Merah Diunggulkan Bungkam Tuan Rumah
