Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Mei 2026 | 05.01 WIB

Penyebab Rupiah Melemah Bukan Faktor Internal, Ekonom sebut Daya Beli Masyarakat Terjaga

Pegawai menunjukan mata uang dolar AS dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Pegawai menunjukan mata uang dolar AS dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan beberapa mata uang asing lain tengah melemah. Menurut ekonom yang masih aktif mengajar di Universitas Muhammadiyah Bengkulu Surya Vandiantara, kondisi itu terjadi bukan karena faktor internal.

Sebab, bila faktor internal membuat rupiah melemah pertumbuhan ekonomi juga lemah. Selain itu, daya beli masyarakat juga pasti turun. Namun, dua hal itu tidak terjadi saat ini. Menurut Surya, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini cenderung stabil dan menunjukkan tren positif.

”Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi YoY triwulan I 2026 berjalan positif di angka 5,61 persen, begitu pula triwulan IV 2025 5,39 persen, dan triwulan III 2025 5,04 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dalam negeri memiliki tren positif dan stabil,” kata dia pada Rabu (6/5).

Masih merujuk data BPS, Surya menyampaikan bahwa tercatat surplus neraca perdagangan. Pada Maret 2026 ekspor Indonesia mencapai angka US$ 22,53 miliar, sedangkan impor hanya mencapai US$ 19,21 miliar. Atas dasar data-data itu, dia menegaskan bahwa lemahnya rupiah saat ini bukan karena faktor internal.

”Mengingat pertumbuhan ekonomi yang positif dan stabil, serta neraca perdagangan yang surplus, maka itu bukan karena faktor internal dan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap daya beli masyarakat,” ujarnya.

Soal utang luar negeri, lanjut Surya, pada April 2026 Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa rasio Utang Luar Negeri (ULN) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ada pada angka 29,8 persen dengan dominasi ULN jangka panjang pada pangsa 84,9 persen dari total ULN.

Berdasar pada data tersebut, dia menilai posisi utang Indonesia masih dalam kategori aman. Terlebih bila posisi utang tersebut dinilai dari rasio kemampuan membayar. Menurut dia, beberapa teori ekonomi sudah memberi ambang batas rasio kesehatan utang. Biasanya amabng batas rasio kesehatan utang ditetapkan sepertiga atau 40 persen dari total pendapatan.

”Laporan Bank Indonesia yang menyatakan bahwa rasio ULN terhadap PDB di angka 29,8 persen menunjukkan bahwa rasio ULN dibawah sepertiga ataupun dibawah 40 persen dari total PDB. Sehingga bisa disimpulkan bahwa ULN masih dalam ambang batas aman,” jelasnya.

Surya pun menyinggung soal tenor waktu pinjaman yang berpengaruh penting dalam mengukur kesehatan ULN. Dia menyebut, semakin panjang tenor yang dimiliki dalam pembayaran utang merepresentasikan nilai kewajiban pembayaran utang yang lebih rendah pada setiap periode pembayarannya. Karena itu, Dominasi ULN jangka panjang yang mencapai 84,9 persen, menegaskan ULN Indonesia masih aman.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore