Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Mei 2026 | 19.10 WIB

Efek Domino Konflik Global, Rupiah Melemah ke Level Rp 17.400 per Dolar AS

Ilustrasi Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). - Image

Ilustrasi Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah kembali tertekan di tengah memanasnya konflik geopolitik global. Rupiah dibuka melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (5/5), bahkan sempat menembus level Rp17.437 per dolar AS. 

Pengamat menilai eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz hingga lonjakan harga minyak dunia menjadi pemicu utama tekanan terhadap mata uang Garuda.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 13,50 poin atau 0,08 persen ke level Rp 17.407 per dolar AS. Kemudian, nilainya makin melemah mencapai Rp 17.437 per dolar AS. Angka tersebut naik 44 poin atau 0,26 persen.

Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan salah satu penyebab adalah kembali terjadinya serangan Amerika Serikat terhadap pasukan Iran di Selat Hormuz yang banyak menewaskan tentara dari Iran sendiri.

"Kita tahu bahwa sebelumnya Trump sendiri sudah menginstruksikan terhadap Angkatan Laut Amerika yang berada di Laut Oman, Laut Internasional untuk melakukan penguasaan terhadap Selat Hormuz yang sebelumnya dikuasai oleh Iran," ujar Ibrahim dalam analisisnya, Selasa (5/5).

"Ini yang membuat ketegangan terbaru karena ada lebih dari lima kapal perang kecil Iran yang dibombardir dan hancur. Ini membuat ketegangan tersendiri di Timur Tengah," tambahbta.

Selain itu, Ibrahim juga menyampaikan pelemahan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh produksi kilang minyak di Rusia yang mengalami penurunan imbas serangan dari Ukraina. Sehingga berdampak terhadap penguatan harga minyak mentah, termasuk WTI crude oil.

Selanjutnya, Ibrahim juga menyoroti terjadinya perang ini berdampak terhadap inflasi. Inflasi tinggi membuat Bank Sentral Amerika baik Bank Sentral Amerika maupun Bank Sentral Global ini akan menaikkan suku bunga, terlebih jika harga minyak mentah terus terkerek.

Bersamaan dengan itu, Ibrahim juga mengatakan kemungkinan perusahaan-perusahaan yang listing di bursa pun juga harus mengeluarkan dividen.

"Di sisi lain pun juga cadangan devisa Indonesia pun juga mengalami penyusutan akibat Bank Indonesia yang terus melakukan intervensi, baik di pasar internasional maupun pasar domestik, kemudian di obligasi maupun surat hutang negara yang begitu masif, sehingga cadangan devisa sedikit menyusut," pungkasnya.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore