Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 April 2023 | 22.48 WIB

Kenaikan Harga Emas Bergantung Seberapa Kuat Efek Krisis Perbankan dan Mitigasi di AS-Eropa

DIBURU INVESTOR: Berbagai jenis logam mulia di Galeri 24 Pegadain, Jakarta, beberapa waktu lalu. Krisis perbankan yang menjalar dari masalah Silicon Valley Bank (SVB) dan Credit Suisse membuat harga emas menguat dalam sebulan ini.

Emas adalah aset investasi bersifat safe haven. Di tengah gonjang-ganjing sektor perbankan di Amerika Serikat yang merembet ke Eropa, logam mulia kembali dilirik investor. Apalagi, stabilitas ekonomi global juga belum terjadi setelah pandemi Covid-19.

---

SEPANJANG perdagangan minggu ini, harga emas terus menguat di tengah melemahnya dolar Amerika Serikat (USD). Indeks USD turun sekitar 0,4 persen terhadap sejumlah mata uang per Rabu (29/3) lalu. Hal itu membuat logam mulia yang berdenominasi dolar AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya sehingga mendorong permintaan emas.

Chief Analyst DCFX Futures Lukman Leong mengatakan, emas masih merupakan aset yang layak dipilih untuk investasi. Sebab, prospek harga emas masih sangat bullish dan masih ada permintaan yang kuat dari bank sentral negara-negara dunia.

Lukman menyebut emas sebagai logam mulia safe haven karena nilainya yang selalu stabil di tengah ketidakpastian geopolitik, seperti perang Rusia-Ukraina dan tensi tinggi Tiongkok-AS, serta perlambatan ekonomi global. ”Harga emas masih akan meningkat hingga akhir 2023,” ujarnya.

Sementara itu, ekonom sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menyebutkan, kenaikan harga emas beberapa waktu terakhir disebabkan sejumlah faktor ekonomi global. Salah satunya, adanya kepanikan massal investor di seluruh dunia akibat krisis perbankan yang menjalar dari masalah Silicon Valley Bank (SVB) dan Credit Suisse.

’’Situasi di AS dan Eropa sangat memengaruhi sentimen investasi terhadap aset berisiko seperti saham dan aset digital,’’ ujarnya.

Bhima menambahkan, saat ini ekspektasi investor terhadap risiko jangka menengah cukup tinggi sehingga investor cenderung mengalihkan asetnya ke investasi yang aman. Salah satunya, emas. Investasi emas dianggap sebagai instrumen yang aman dan menjadi indikator terbaik untuk menilai kondisi ekonomi.

Meski demikian, dia mengingatkan, semakin tinggi harga emas, berarti kemungkinan krisis juga akan semakin tinggi. ”Jadi, ke depan bergantung seberapa kuat efek domino krisis perbankan dan upaya mitigasi yang dilakukan, terutama di negara G7, Tiongkok, dan India,’’ jelasnya.

Secara proyeksi, harga emas dinilai masih bergerak sangat volatil. Pada penutupan perdagangan Kamis (30/3), emas ditutup di posisi USD 1.980,25 per troy ounce. Harga tersebut masih dalam tren positif. Yakni, meningkat sekitar 0,83 persen. Bahkan, banderol itu adalah yang tertinggi sejak 23 Maret atau sepekan terakhir. Meski, harga emas sempat melandai tipis 0,05 persen pada Jumat (31/3).

Sementara itu, USD yang bergerak melemah diprediksi terjadi karena dampak ekspektasi pelaku pasar bahwa inflasi AS terus melanjutkan tren penurunan. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pelemahan dolar AS juga dipengaruhi kebijakan pemerintah Tiongkok yang mulai melonggarkan kebijakan zero Covid-19 yang berimplikasi pada sentimen positif bagi mata uang Asia.

”Sebagian besar negara Asia, termasuk Indonesia, cukup bergantung pada kinerja perekonomian Tiongkok,” tegasnya. (agf/c7/dio)

PREDIKSI PERGERAKAN HARGA LOGAM TAHUN INI

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore