Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 17 Agustus 2025 | 16.10 WIB

Cerita Milenial dan Gen Z Berjuang Mencapai Merdeka Finansial di Tengah Gaya Hidup FOMO dan Kebutuhan akan Validasi

ILUSTRASI Trail run. (Bali Trial Running untuk Jawa Pos) - Image

ILUSTRASI Trail run. (Bali Trial Running untuk Jawa Pos)

JawaPos.com - Kemerdekaan Indonesia memang rutin dirayakan setiap tahun. Namun siapa kira, di tengah usia yang ke-80 tahun ini, kehadirannya telah dimaknai secara luas, salah satunya dikaitkan dengan kemerdekaan finansial.

Jika saja perayaan kemerdekaan mudah dirayakan dengan hanya mengenakan kostum merah putih, atau mengikuti lomba balap karung. Rupanya, kemerdekaan finansial tak semudah dua kegiatan di atas.

Banyak anak-anak muda generasi milenial dan generasi Z di tengah momen kemerdekaan ini, masih merasa terengah-engah untuk mencapai kemerdekaan finansial. Bahkan, untuk melunasi cicilan saja, perlu banyak-banyak ikhlas karena makan uang tabungan.

Hal ini seperti dialami oleh Erlinda, seorang pekerja swasta milenial di Jakarta. Ia mengaku, pada momen kemerdekaan ini dirinya masih jauh dikatakan merdeka finansial. Apalagi, ia baru saja bisa bernapas lega karena sedikit demi sedikit bisa kembali menyisihkan gaji untuk menabung.

"Masih jauh, kalau aku masih sangat-sangat jauh dari merdeka finansial. Karena untuk saat ini masih dalam proses, at least aku masih bisa nabung Walaupun itu masih sedikit," kata Erlinda kepada JawaPos.com.

Selain itu, hal yang sama juga dirasakan oleh Rara, seorang mahasiswa di salah satu kampus negeri di Yogyakarta. Dirinya masih jauh untuk bisa disebut sebagai seseorang yang merdeka finansial, salah satunya karena masih mengandalkan uang saku dari orang tua.

"Aku masih jauh banget merdeka finansial. Karena masih belajar ngatur uang dari orang tua untuk kebutuhan kuliah, kosan. Paling penting ya buat makan sehari-hari," ujar Rara saat dihubungi JawaPos.com.

Arti Merdeka Finansial

Saat ditanya lebih lanjut soal arti merdeka finansial, Rara mengaku momen tersebut sedikit bisa dirasakan ketika akhirnya ia berhasil memiliki dana sisa dari uang saku mingguannya.

Setiap pekan, ia rutin menerima uang saku senilai Rp 250 ribu dari orang tua. Meski dinilai cukup, tapi ia mengaku masih perlu mengotak-atik agar tetap bisa memenuhi semua kebutuhannya.

Apalagi saat ini, karena ia baru saja menjadi perantau di Jogja, justru uang tersebut lebih banyak dibelanjakan untuk printilan di kosannya. Padahal, ia sangat berharap banyak uang mingguan bisa tersisa dan menjadi dana darurat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tak terduga.

"Merdeka finansial itu menurutku ketika kita bisa mengelola uang dengan baik dan punya dana yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Terutama sebagai anak rantau yang ngekos, mungkin cukup untuk kebutuhan kuliah, paling penting buat makan, dan biaya urgent lainnya," jelas Rara.

Menyoal merdeka finansial, ia mengaku baru akan memperjuangkannya secara bertahap ketika lulus dari bangku kuliah. Pasalnya, ia berkeinginan untuk langsung bekerja.

Pemerintah sempat mewacanakan pengurangan luas rumah subsidi jadi 14 meter persegi agar lebih terjangkau milenial dan gen Z. Namun akhirnya dibatalkan karena dinilai tak layak. (Salman Toyibi/Jawapos)

Dari gaji-gaji bulanannya nanti, ia berniat akan diperbanyak untuk menabung. Apalagi, kelak ia bermimpi untuk bisa memiliki sejumlah aset investasi, salah satunya tanah. Selain itu, ia juga berkeinginan untuk mengajak kedua orang tuanya keliling dunia.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore