
Paylater dalam perspektif ekonomi syariah: memicu munculnya sifat "israf" (berlebihan) dan "tabdzir" (pemborosan). (Freepik/ senivpetro)
JawaPos.com - Akademisi Ekonomi Syariah Fakultas Studi Islam dan Peradaban Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Syah Amelia Manggala Putri menyoroti fenomena penggunaan layanan "paylater" yang dinilai telah mengubah pola transaksi masyarakat serta mendorong perilaku konsumtif, terutama di kalangan generasi muda.
Amelia mengatakan bahwa fitur "beli sekarang, bayar nanti" secara psikologis dapat memicu impulse buying atau pembelian impulsif karena konsumen cenderung meremehkan beban finansial di masa depan.
"Kemudahan akses tanpa agunan dan persetujuan instan menciptakan ilusi bahwa membeli sesuatu itu tidak mahal. Padahal yang terjadi adalah penundaan beban keuangan, bukan penghapusannya," kata Amelia, dikutip Kamis (28/5).
Menurutnya, mahasiswa menjadi kelompok yang paling rentan terhadap perkembangan teknologi finansial ini. Kombinasi antara kemudahan transaksi digital, gencarnya promosi, serta pengaruh gaya hidup di media sosial membuat dorongan untuk konsumsi berlebih menjadi sulit terkontrol.
Dampaknya, lanjut Amelia, muncul kerentanan finansial serius bagi anak muda, mulai dari tumpukan utang, beban stres keuangan, ketegangan sosial, hingga risiko kebocoran data pribadi.
Ditinjau dari perspektif ekonomi syariah, perilaku konsumtif akibat "paylater" dinilai bertentangan dengan prinsip pengelolaan harta dalam Islam. Islam menekankan pola konsumsi yang proporsional, berorientasi pada kebutuhan, serta menjauhi sifat "israf" (berlebihan) dan "tabdzir" (pemborosan).
"Dalam perspektif "maqashid al-syari’ah", pengelolaan harta harus dilakukan secara bertanggung jawab agar tidak menimbulkan mudarat bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar," tambahnya.
Amelia mengimbau masyarakat agar meningkatkan literasi keuangan sebelum memutuskan menggunakan layanan pembiayaan digital. Pengguna diminta untuk selalu teliti memahami struktur biaya, memastikan kemampuan bayar, dan memeriksa legalitas platform agar terhindar dari persoalan finansial di masa depan.
Ia menegaskan bahwa dalam Islam, kemakmuran tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan bagaimana harta tersebut dikelola untuk kemaslahatan.
"Konsep "falah" atau kesuksesan dunia dan akhirat harus menjadi kompas dalam perilaku keuangan masyarakat," pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Santri Cilik Tegur Bacaan Alquran Nusron Wahid: Ayat Alquran Jangan Diacak-acak!
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Brentford vs Sunderland di Liga Inggris: The Bees Berpeluang Gasak Tim Tamu!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
