
Petugas bank menyusun lembaran uang rupiah dan dolar di salah satu bank di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan perbankan berada dalam kondisi yang aman dan stabil. Meski terdapat tekanan akibat pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini, likuiditas dan portofolio perbankan masih kuat.
"Sejauh ini assessment bersama KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan), kita melihat net open position masih aman. Pemberian kredit, (melihat) LDR (loan to deposit ratio) juga masih aman, dana pihak ketiga (DPK) termasuk valas (valuta asing) juga masih aman," terang Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae, kemarin (10/4).
Menurut dia, sektor perbankan tidak terpengaruh secara signifikan oleh fluktuasi nilai tukar rupiah. Saat ini, masih berada dalam posisi yang dapat dikelola. Hanya saja, kondisi ini bisa berubah jika ada peningkatan kebutuhan likuiditas yang mendesak.
"Bank Indonesia juga sudah siap untuk intervensi jika likuiditas yang diperlukan," imbuhnya.
Sejauh ini pasar uang antar bank (PUAB) dalam rupiah masih normal. Belum ada indikasi bahwa sektor perbankan akan menghadapi masalah serius terkait dengan likuiditas atau fluktuasi rupiah," ujarnya.
Dalam situasi ini, komunikasi yang baik antara pemerintah, industri, dan regulator sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi. Proses komunikasi yang lebih intensif akan membantu mengatasi masalah asymmetric information. Nah, informasi yang tidak seimbang itu dapat meningkatkan ketidakpastian di pasar.
Dian mengakui bahwa persepsi pasar terhadap kondisi ekonomi dan perbankan sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Seperti kebijakan ekonomi global dan perkembangan di pasar internasional. Meski demikian, deregulasi dan penyederhanaan prosedur akan mampu meningkatkan kepercayaan pasar.
Dian menekankan, tidak ada masalah terhadap fundamental perbankan. Justru masih sangat baik. "Pasar modal kan begitu, semakin asymmetric information diatasi, maka confidence investor akan semakin kuat. Dengan komunikasi yang baik dan langkah-langkah yang tepat, sektor perbankan akan tetap stabil, bahkan dalam situasi yang penuh tekanan ini," tandasnya.
Sementara itu, Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja mencoba untuk tetap optimistis. Meski memang situasi global sedang tidak menentu. Tapi dari sikap pemerintah dan kesiapan perbankan cukup solid untuk meredam gejolak saat ini.
Parwati menyatakan, berbagai indikator seperti rasio kecukupan modal, LDR, hingga non-performing loan terlihat cukup aman. Sepanjang 2024, OCBC mencatat pertumbuhan DPK hingga 13 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp 205,9 triliun. LDR bank berkode emiten NISP itu juga mengalami pelonggaran menjadi 81,9 persen.
"Likuiditas relatif terjaga, jadi kami masih melihat kondisi yang positif. Likuiditas valas sejauh ini masih terkendali. Likuiditas dolar (USD) dan lainnya tidak ada masalah," ucap Parwati.
Dalam menjaga kepercayaan investor, lanjut dia, OCBC berfokus pada fundamental. Percaya pada prospek jangka panjang (long term). Tidak ada aksi korporasi khusus, termasuk buyback saham, dalam waktu dekat. (han)

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
