
SAKSI MATA: Yasak dan timnya melakukan latihan pendakian di area pasir Gunung Bromo saat terjadi erupsi pada 2010.
JawaPos.com - Tragedi yang dialami para pendaki saat erupsi Gunung Marapi menggetarkan hati Yasak. Ingatan lelaki 33 tahun itu langsung terlempar ke 2010. Dia dan timnya menyaksikan langsung erupsi Gunung Bromo. Ketika itu, mereka sedang menjalani latihan pendakian menjelang Ekspedisi Seven Summits ke Gunung Elbrus di Rusia.
"Sebelum berangkat, kami mengecek status Bromo. Karena masih aman di zona tertentu, kami berangkat,” ceritanya kepada Jawa Pos kemarin (9/12).
Memang sudah ada peringatan erupsi Bromo. Namun, karena lokasi latihan pendakian ada di area yang berjarak 3 kilometer dari kawah, Yasak dan timnya memutuskan untuk tetap melanjutkan agenda mereka dengan mematuhi imbauan secara ketat.
Selama sepekan bermalam di area berpasir yang konturnya mirip dengan hamparan salju Elbrus, Yasak dan teman-temannya terus mendengar dentuman. Bangunan yang ada di dekat mereka ikut bergetar. Angin kencang yang kadang bertiup bersamaan dengan dentuman menambah ketegangan Yasak dan tim.
Hingga pada satu momen, langit menggelap. Bromo memuntahkan batu vulkanis yang warnanya merah menyala. "Secara psikologis kami terdampak ya meskipun di zona aman. Ngeri lihat lava pijar keluar kayak kembang api,” katanya.
SAKSI MATA: Yasak
Yasak menambahkan bahwa bencana memang selalu datang tiba-tiba. Apalagi, alam tidak pernah bisa ditebak. "Saya lupa kejadiannya tahun berapa. Jadi, kan setiap musim kemarau itu sering terjadi kebakaran di gunung. Saat itu saya ndaki Semeru. Di Oro-Oro Ombo, pas kami berangkat, tidak ada api sama sekali. Tapi, pas kami turun, ada kebakaran di sana,” kata Yasak tentang kebakaran yang dia saksikan saat mendaki Gunung Semeru.
Yasak dan kawan-kawannya terpaksa menunggu sampai api di jalur pendakian padam. Hari hampir petang saat petugas akhirnya mengizinkan dia melintas. Empat jam berlalu sejak kebakaran dilaporkan dan petugas belum berhasil memadamkan api secara keseluruhan.
"Karena kita mendaki bukan untuk memadamkan api, jadi nggak prepare alat. Tapi, sebetulnya titik rawan api bisa dipetakan, jadi bisa pendaki hindari,” bebernya.
Yang utama, lanjut Yasak, saat dihadapkan pada situasi darurat, segera amankan diri terlebih dahulu. Jika tidak mampu menanggulangi sendiri, segera lapor ke pihak terkait.
"Tak kalah penting, setiap pendaki harus berperilaku sopan dan selalu patuh aturan karena risikonya tinggi,” tandasnya. (lai/c7/hep)

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
