
DULU DAN KINI: Cholifatur Rosida (28 Oktober 2022/kiri) dan (29 September 2023/kanan).
Setahun setelah tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 nyawa, sebagian korban masih dihantui beragam trauma sampai sekarang. Kesulitan mendapatkan pekerjaan, tak bisa lagi main bola.
FARID S. MAULANA, Kota dan Kabupaten Malang
---
SEJAK malam jahanam pada 1 Oktober tahun lalu itu, hidup Cholifatur Rosidah tak sama lagi.
Pen yang terpasang di tulang punggungnya membuat aktivitasnya terbatas. "Ada rasa ’ngganjel’ kalau rukuk dan jongkok," ujarnya.
Ngilu juga langsung meraja tiap kali dia merasakan dingin atau mendengar suara petir. "Sedikit takut kalau ada hujan," paparnya.
Pen di punggung itu dipasang setelah dia mengalami cedera patah tulang belakang ketika menonton pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya pada 1 Oktober tahun lalu di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Rosi –sapaan akrab Cholifathur Rosidah– adalah salah satu korban luka dalam tragedi yang menewaskan 135 nyawa tersebut.
Dia selamat meski tubuhnya sempat terinjak-injak di gate 10. "Setelah dioperasi, saya hanya terbaring di kasur. Baru Desember tahun kemarin saya bisa berdiri dan jalan," lanjutnya.
Itu pun dia belum melakukan aktivitas seperti dulu. "Kadang kalau jongkok lalu berdiri, ada bunyi ’tek’ di punggung," ungkapnya.
Tapi, tingginya semangat membuat tubuhnya merespons positif. Selesai dioperasi beberapa hari setelah tragedi, pada Desember dia sudah bisa berjalan. Sekitar awal tahun ini, alumnus SMK PGRI Pakis Grafika itu bahkan sudah berani naik motor sendiri. ’’Tapi pelan-pelan, takut kalau ada jeglongan. Sakit,’’ bebernya.
Satu tahun setelah malam kelam di Kanjuruhan tersebut, kondisi yang belum normal itu membuatnya kesulitan mendapat pekerjaan. Sebab, tubuhnya jadi gampang lelah. ’’Duduk lama atau berdiri lama, rasanya badan capek,’’ terangnya.
Perempuan kelahiran 3 Maret 2004 itu tak sabar bisa pulih sepenuhnya. Selain karena ingin mendapatkan pekerjaan, Rosi berharap bisa turun ke jalan untuk memperjuangkan keadilan bagi korban tragedi. ’’Sama ibu saya beberapa kali turun, tapi ya itu tidak maksimal rasanya. Cepat capek,’’ katanya.
DULU DAN KINI: Raffi Atha Dziaulhamdi (28 Oktober 2022/kiri) dan (28 September 2023/kanan).
Penyintas tragedi Kanjuruhan lainnya, Raffi Atha Dziaulhamdi, masih kecewa dengan sikap manajemen Arema FC. Sebab, dia merasa tidak ada tindakan untuk membela para korban. Bahkan memilih tetap bertanding meski yang meninggal dan terluka pada tragedi 1 Oktober tahun lalu itu adalah suporternya. Termasuk dirinya yang matanya sempat merah dampak gas air mata yang ditembakkan aparat. ’’Saya unfollow Instagram Arema FC, saya juga tidak tahu jadwal pertandingannya untuk sementara,’’ ucapnya.
Siswa SMK Negeri 4 Grafika, Kota Malang, itu ingin fokus pada perjuangan para korban tragedi. Bahkan, dirinya juga tidak masalah jika fotonya dipakai untuk alat perjuangan. ’’Selama untuk keadilan, saya tidak masalah,’’ tuturnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
