Ketika Pegiat Komunitas Mata Hati Belajar Jadi Pemandu Wisata Surabaya

22 November 2022, 07:48:17 WIB

Buah ketelatenan dan hikmah dapat dipetik dari Komunitas Mata Hati. Pada intinya, terbatas bukan berarti berhenti untuk melakukan aktivitas. Melalui kolaborasi, Komunitas Mata Hati dan Roodebrug Soerabaia mengadakan Surabaya Walking Tour. Para anggota komunitas bisa belajar menjadi pemandu wisata.

AZAMI RAMADHANSurabaya

KALAU memang kami sudah diciptakan untuk tidak bisa melihat, biarlah orang lain melihat apa adanya upaya kami. Selanjutnya, kami akan membalasnya dengan mata hati,’’ begitu kira-kira falsafah yang dipegang teguh para pegiat Komunitas Mata Hati (KMH).

Bagi para pegiat KMH, belajar menjadi kunci untuk mengembangkan potensi. Misalnya, aktivitas pada akhir pekan lalu (13/11) di Jalan Tunjungan, Surabaya. Bersama pegiat Komunitas Sejarah Roodebrug Soerabaia, mereka menggelar tur heritage di dua lokasi, yakni di Jalan Tunjungan dan Jalan Gemblongan.

”Ini benar-benar kejutan. Sekaligus tantangan. Kami yang terbatas ini bisa belajar menyampaikan sejarah,’’ kata Danny Heru, salah satu pegiat Komunitas Mata Hati (KMH). Karena itu, kesempatan tersebut tidak mau dilewatkan begitu saja. Danny begitu girang ketika mendapatkan informasi soal guide.

Apalagi tentang kawasan bersejarah. Dia pun mencari sumber-sumbernya. Mulai dengan mendengarkan cerita hingga membaca sumber-sumber kredibel. Bahkan, dia tidak sungkan berdiskusi dengan para pegiat dari komunitas lainnya. ”Pakai aplikasi dan diskusi bersama,’’ ujarnya.

Menurut Danny, sekarang pada era kemajuan teknologi informasi, ada banyak aplikasi yang dimanfaatkan teman difabel tunanetra untuk mendapatkan informasi. Misalnya, aplikasi Sullivan Plus, lalu Envision AI dan Be My Eyes. Termasuk pengaktifan Google talkback yang sudah tersedia di Android dan smartphone. Aplikasi tersebut cukup membantu untuk menelusuri dan membaca sesuatu.

Misalnya, aplikasi Envision AI yang mampu membaca segala teks dengan berbagai pilihan bahasa. Cukup memfoto teks. Secara otomatis aplikasi akan membacakan apa saja yang terekam dalam foto yang telah ter-scan tersebut. ”Sumber ada di buku juga. Itu yang kami baca, lalu kami sampaikan,’’ ungkapnya saat ditemui di Hotel Majapahit.

Maka, Danny Heru bersama tiga rekannya, Rizal Kurniawan, Prana Karenza, dan Azwar, menyampaikan peristiwa perobekan bendera Belanda pada 19 September 1945.

Salah satu aktivitas ”wajib” sebelum menyampaikan cerita itu adalah menyentuh bangunan bersejarah tersebut. Meraba dan meresapi bahwa bangunan itu bukanlah bangunan semata. ”Misal, dulu diceritakan tank. Ya, bagaimanapun harus pegang. Biar tahu dan merasakan,’’ ungkapnya.

Bagi pria 37 tahun itu, aktivitas menjadi guide di Surabaya Walking Tour merupakan perkembangan signifikan sejak berdirinya KMH pada 2000-an. Bagi dia, kegiatan tersebut merupakan pijakan agar teman-teman tunanetra tak sebatas sebagai objek. Tapi, bisa menjadi subjek dengan segala potensi yang dimiliki. ”Mencoba melihat dari cara pandang kami,’’ lanjutnya.

Pegiat komunitas sejarah Roodebrug Soerabaia Ady Setyawan mengapresiasi keuletan dan keinginan teman-teman Komunitas Mata Hati. Meski memiliki keterbatasan fisik, mereka mampu menguasai beberapa hal yang juga dikuasai oleh orang pada umumnya. ”Orang-orang diajak melihat lebih dalam lagi,’’ ujarnya. Pengembangan potensi dan kompetensi pun dapat dilakukan. Terlebih, para pegiat datang dari berbagai latar belakang dengan keinginan kuat untuk belajar.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads