Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Januari 2017 | 13.39 WIB

Bila Para Polisi Mengikuti Stand-up Comedy, Brigadir Ferry Curhat Pacaran dengan Polwan

LUCU: Dari kiri, Briptu Galang, Brigadir Fachry, Bripka Gamayel, dan Brigadir Ferry selepas tampil di stand-up comedy Police Story Show Minggu (22/1) di gedung Srimulat Surabaya. - Image

LUCU: Dari kiri, Briptu Galang, Brigadir Fachry, Bripka Gamayel, dan Brigadir Ferry selepas tampil di stand-up comedy Police Story Show Minggu (22/1) di gedung Srimulat Surabaya.


Meski tegap, gagah, dan berseragam, ternyata polisi juga bisa tampil jenaka. Itu pula yang tersaji di gedung Srimulat Surabaya. Para polisi muda tampil sebagai komika. Yang dibahas adalah tugas keseharian mereka.





TAUFIQURRAHMAN





TEMPAT kejadian perkara (TKP) itu gedung Srimulat Surabaya. Saat tirai terbuka, area panggung penuh dengan garis polisi. Ada pula helm dan perisai anti-huru-hara. Tapi, insiden yang terjadi adalah polisi yang sedang galau. Mereka menyapa para penggemarnya untuk curhat. Tidak hanya menanyakan kabar, tetapi ada juga yang melontarkan pertanyaan yang paling ditakuti pengendara motor. Pertanyaan itu melengking bak MC pertunjukan dangdut pantura. ’’Halo semua, mana surat-suratnyaa...’’ sapa dia.



Bripka Mei Mahattir Gamayel, polisi yang tenar setelah mengikuti stand-up comedy di salah satu stasiun TV swasta. Selain gagah, polisi yang terkenal dengan lagu cendol dan gorengan itu segera membuat penonton tertawa pada pandangan pertama. Lupakan polisi yang seram dan sangar. Meski berseragam lengkap, pria asal Balikpapan tersebut malah terlihat lucu sepanjang hampir satu jam pertunjukan.



”Saya sedih kalau ingat cendol dan gorengan,” ujar dia mengawali cerita. Padahal, Bripka Gamayel hanya bermaksud untuk membikin kampanye antipsikotropika dengan memanfaatkan lagu PPAP (Pen-Pineapple-Apple-Pen).



Dia pun menyanyikan lagu PPAP itu versi sendiri. Gamayel punya cendol dan bir, pilih es cendol. Juga punya gorengan dan narkoba, pilih gorengan. Es cendol, gorengan, ugh! Kenyang!



Suatu ketika Gamayel berjalan-jalan. Seorang anak kecil yang ditemani ayahnya meledek Gamayel. ”Pak tuh, lihat Pak ada polisi cendol, hihihi,” kata bocah itu.



”Hus, ngawur kamu, itu polisi gorengan.” Mereka berdua pun tertawa terpingkal-pingkal.



Ada empat anggota kepolisian yang unjuk kebolehan di atas panggung gedung Srimulat malam itu (22/1). Mereka adalah Brigadir Ferry Ardilesmana, Brigadir Fachry Imam Wahyudi, Briptu Galang Abi Hanggara, dan Bripka Gamayel. Acara dipandu komika terkenal Dodit Mulyanto dan Deny Gigis. Komunitas Stand-Up Indo Surabaya menjadi host untuk acara tersebut.



Police Story Show merupakan penampilan pertama stand-up comedy yang khusus mengangkat kisah suka-duka para polisi. Konsep kisah para polisi itu digagas Briptu Galang yang paling junior. Sementara itu, tiga rekannya yang lain adalah alumnus kompetisi stand-up comedy di stasiun televisi swasta.



Masing-masing polisi punya kelucuan tersendiri. Briptu Galang memang belum berhasil menembus kompetisi setelah 22 kali audisi. Tapi, begitu memasuki panggung, perut buncitnya membantu penonton tertawa. ’’Di kantor saya dipanggil babi,’’ katanya. Malam itu, suasana hening pun ternoda oleh cekikikan para penonton. Perut yang buncit membuat para senior hobi menonjok Galang. Meski sering di-bully, Galang membuat terobosan unik dengan mendekatkan polisi dan masyarakat lewat humor.



Curhat polisi bermacam-macam. Mulai menyampaikan suka-duka saat merazia kendaraan, menggerebek hotel dan kos-kosan, serta mengamankan demo sampai konser dangdut.



Ada juga soal kedinasan, yakni romantisme pacaran dengan polisi wanita (polwan) dan derita polisi kampung. Tentu saja beberapa berdasar kisah nyata. Yang lain cuma bumbu belaka.



Brigadir Fachry mengetahui betul enaknya jadi polisi yang bertugas di kota jika dibandingkan dengan dirinya yang bertugas di desa. Misalnya, soal razia. Di kota, razia kendaraan bermotor bisa digelar kapan saja. Kalau di desa, mau razia apa? Jalan sepi semua.



Karena sepi, dia harus berdiri lama di pinggir jalan. Itu pun jadi bahan gunjingan masyarakat yang lewat. Sebuah dokar lewat, penumpangnya berbisik-bisik membicarakan mereka. Tidak hanya buku tilang yang jarang dipakai. Prosedur tilang pun jarang dipakai. Lama-lama polisi kampung lupa cara menilang.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore