alexametrics

drg Dini Setyowati Menulis Dental Busy Books untuk Anak

17 September 2020, 07:07:41 WIB

Angka kasus gigi berlubang pada anak-anak di Indonesia terbilang tinggi. Karena itu, dosen Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat FKG Universitas Airlangga (Unair) drg Dini Setyowati menciptakan Dental Busy Books. Yakni, media pembelajaran tentang kesehatan gigi untuk anak-anak prasekolah.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya

Dini Setyowati menunjukkan tujuh buku Dental Busy Books inovasinya di ruang pertemuan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (Unair) Senin siang (14/9). Buku tersebut begitu berwarna.

Desainnya unik dan berbeda dari jenis busy books yang lain. Perempuan 35 tahun itu menciptakan Dental Busy Books dengan bahan kain flanel warna-warni.

”Sementara saya bikin tujuh buku dengan warna yang beragam,” kata dosen Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat FKG Unair itu.

Di dalam buku tersebut, terdapat banyak sekali gambar dari kain flanel. Semua berkaitan dengan kesehatan gigi. Sebagian isi buku itu juga bisa dibongkar pasang. Jadi, anak-anak semakin tertarik belajar karena seolah sedang bermain.

Ya, Dental Busy Books adalah inovasi media pembelajaran kesehatan gigi untuk anak usia 2−6 tahun atau prasekolah. Bentuknya berupa buku dengan bahan kain flanel. Buku tersebut didesain sebagai sarana bermain sambil belajar anak-anak. ”Prasekolah itu kan konsepnya bermain sambil belajar. Jadi, dengan buku yang saya bikin ini, kesannya bermain, tetapi sebenarnya belajar,” ujar dia.

Dini mengatakan, ide tersebut berawal dari riset yang dilakukan ketika dirinya kuliah doktor di Flinders University, Australia, pada 2014−2019. Saat itu, penelitiannya membahas kesehatan gigi pada anak. Ada banyak faktor yang memengaruhi kesehatan gigi anak. Di Indonesia, hampir setiap anak memiliki lubang gigi. ”Persentasenya tinggi,” katanya.

Menurut dia, faktor-faktor yang mengakibatkan gigi berlubang pada anak adalah makanan dan minuman manis. Selain itu, cara menggosok gigi yang salah dan takut ke dokter gigi. Tiga faktor tersebut memengaruhi masalah gigi pada anak.

”Anak-anak yang giginya berlubang mempunyai perilaku seperti faktor tersebut. Namun, bagi yang tidak berlubang, ibunya cenderung membatasi makanan dan minuman manis, menggosok gigi dengan benar, dan rajin ke dokter gigi,” jelasnya.

Dari situlah, Dini melakukan riset ke sekolah-sekolah TK di Surabaya. Total ada 1.606 anak di 62 prasekolah atau PAUD yang diteliti dan mewakili seluruh Surabaya. Di setiap kecamatan ada dua prasekolah yang diambil sampel penelitian. Dari penelitian tersebut, sejatinya ada materi kesehatan gigi di sekolah PAUD/TK. Namun, materi tersebut belum diatur dengan baik.

”Ada sekolah yang mengundang dokter gigi, memeriksa gigi, dan memberikan pengetahuan yang benar tentang kesehatan gigi. Namun, ada juga guru yang memberikan materi sendiri,” ujarnya.

Dini mengaku bahwa saat riset dilakukan, pernah melihat adanya kegiatan sikat gigi bersama. Ternyata, pemberian pasta gigi sepanjang bulu sikat. Padahal, yang benar cukup sebesar biji kacang polong. Namun, masih banyak guru yang memberikan pasta gigi seperti orang dewasa.

”Jika sekolah tidak memanggil dokter gigi untuk pembelajaran kesehatan gigi, guru ternyata hanya belajar melalui YouTube dan otodidak,” kata istri Muhammad Iswahyudi tersebut.

Bahkan, PAUD/TK tidak memiliki media pembelajaran tentang kesehatan gigi. Karena itu, muncul ide untuk membuat media pembelajaraan kesehatan gigi yang menyenangkan.

Konsep buku tersebut sejatinya untuk dikirim ke sekolah. Kemudian, guru mengajak anak-anak bermain dan belajar kesehatan gigi dengan Dental Busy Books. Kemudian, dilakukan evaluasi. ”Namun, karena situasi pandemi Covid-19, aktivitas di PAUD/TK ditiadakan. Akhirnya, saya membuat buku dan video panduannya,” ungkapnya.

Kemudian, buku tersebut dikirim kepada orang tua yang mau mengajarkan kesehatan gigi kepada anaknya. Total ada 20-an ibu-ibu yang telah menerima Dental Busy Books secara gratis. Para orang tua itu juga memberikan feedback dengan membuat video. ”Video feedback dari ibu-ibu tersebut dikirim ke saya. Rata-rata menyambut positif buku ini,” ujarnya.

Dini mengatakan, buku tersebut sangat menarik karena warnanya mencolok. Anak-anak secara tidak langsung mudah diajak untuk bermain. Di dalam buku itu, ada tiga tema. Yakni, tema gigi yang sehat dan berlubang, cara menggosok gigi yang benar, dan pengetahuan tentang dokter gigi.

Pada tema pertama, lanjut dia, juga dijelaskan soal konsumsi makanan dan minuman apa saja yang menimbulkan masalah gigi berlubang. Anak-anak juga akan belajar mengenal makanan dan minuman yang bisa membuat gigi sehat atau gigi berlubang.

Kemudian, tema menyikat gigi. Di dalam buku tersebut, juga ada gambar gigi sulung dengan jumlah 20. Anak-anak bisa belajar menghitung. Selain itu, belajar menyikat gigi dengan benar. Bahkan, anak-anak bisa praktik menyikat gigi yang benar pada boneka flanel. ”Termasuk cara memberikan pasta gigi,” katanya.

Selain itu, anak dikenalkan tentang dokter gigi. Menurut Dini, lebih dari separo anak yang diteliti rata-rata takut ke dokter gigi. Karena itu, di dalam buku tersebut juga diberikan situasi ketika berada di ruangan dokter gigi. Ada tempat tidur pemeriksaan. Ada alat-alat yang digunakan dokter gigi untuk memeriksa gigi. Mulai kaca mulut, bor gigi, hingga cahaya lampu.

Untuk setiap tema tersebut, lanjut dia, anak-anak bisa memainkan alat-alat di dalam buku. Jadi, anak-anak dapat bermain peran. Hal itu sangat bagus untuk kemampuan motorik dan sensorik anak. Bahkan, mereka bisa sekaligus belajar mengenal warna dan berhitung. ”Di video panduan kami berikan cara-cara menjelaskan ke anak dengan tepat dan benar,” ujar dia.

Ke depan, Dini ingin bisa bekerja sama dengan PAUD agar media pembelajaran Dental Busy Books dapat dimanfaatkan di sekolah-sekolah.

”Saat ini permintaan buku ini cukup banyak. Namun, karena buku ini adalah riset, saya akan daftarkan dulu ke HKI. Setelah itu, mungkin bisa diperbanyak,” katanya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git




Close Ads