
Pasien di rumah sakit usai Lombok diguncang gempa 7 SR, Minggu (5/8).
Karena belum ada tenda darurat, para bidan membawa pasien hamil ke ruang persalinan sembari mengenakan helm. Ibu hamil lainnya yang sudah kontraksi harus menahan sakit semalaman di ruang terbuka.
RAGIL PUTRI I.-SIRTUPILLAILI, Mataram
---
HANYA ada tiga telepon seluler (ponsel) yang menerangi ruang persalinan RSUD Kota Mataram. Dua milik bidan, satunya lagi milik keluarga pasien.
Sekelilingnya gelap Listrik mati di seantero Mataram setelah gempa 7 skala Richter (SR) menghajar Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu malam lalu (5/8) itu.
Padahal, di bed, Komang Suciana, si pasien, tengah berjuang untuk melahirkan sang buah hati. "Kami luar biasa deg-degan," kata Dwi Putri Mardianti, salah seorang bidan yang membantu persalinan tersebut, kepada Jawa Pos.
Untung, si bayi perempuan itu lahir dengan selamat. Tapi, tugas Putri dkk belum selesai. "Karena masih ada proses jahitnya kan dan harus hati-hati benar," ungkapnya dengan penuh rasa haru.
Gempa dahsyat pada malam itu memang tak sampai meruntuhkan tembok RSUD Kota Mataram. Tapi, plafon runtuh dan perabotan berjatuhan. Pasien dan keluarga yang menunggui, juga para staf rumah sakit (RS), tentu saja juga berlarian ke luar ruangan.
Ketika gempa utama mereda, berdatanganlah tujuh pasien yang akan melahirkan. "Semua (pasien) datang karena pecah ketuban setelah gempa," ucap Putri yang malam itu piket bersama Winda, Heny, Reny, Diana, dan Roya.
Putri dan kelima rekannya kebagian menangani dua persalinan. Pasien melahirkan pertama dia tangani pukul 23.05 Wita, sekitar dua jam setelah gempa. Ketika listrik masih padam. Dan tenda darurat belum lagi didirikan di luar.
Padahal, Komang, si pasien, sudah tidak bisa menunggu. Ruang bersalin memang berada di lantai 1. Meski begitu, lokasinya berada di paling belakang gedung. "Akhirnya kami terobos masuk ke dalam gedung karena di luar peralatan tidak memungkinkan. Kami pakai helm dan segala macam kami upayakan untuk pasien," terang perempuan kelahiran 23 Maret 1989 tersebut.
Gempa Minggu malam lalu itu, yang hanya berselang persis seminggu dari gempa 6,4 SR, memang membuat pelayanan kesehatan di Mataram kocar-kacir. Hingga kemarin sore pasien belum berani masuk ke kamar perawatan. Mereka pun akhirnya diopname di lahan parkir.
Pantauan Lombok Post (Jawa Pos Group), dengan bed perawatan dan slang infus yang masih tertancap, para pasien tetap mendapat penanganan medis. Di bawah tenda darurat yang didirikan. "Belum berani masuk ke dalam," kata Inaq Saliah, salah seorang ibu yang menunggu anaknya dirawat.
Inaq menunggui Muis Alazis, anaknya yang sudah seminggu dirawat di RSUD Provinsi NTB. Bocah 13 tahun itu menjadi korban gempa 6,4 SR asal Dusun Lendang, Desa Anyar, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Kakinya terpaksa diamputasi karena terjepit jembatan saat sedang bermain di sana ketika lindu terjadi.
Ibu melahirkan kedua ditangani Putri juga ketika tenda darurat sudah berdiri. Pada pukul 02.02 Wita. Listrik juga sudah menyala. Pasien akhirnya juga bisa melahirkan bayi perempuan dengan lancar.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Valencia vs Celta Vigo di Liga Spanyol: Los Che Bisa Kesulitan di Kandang!
Prediksi Skor Brighton & Hove Albion vs Aston Villa di Liga Inggris 2026/2027: Laga Berakhir Imbang!
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Groningen di Liga Belanda: Boeren Enggan Malu di Kandang!
Ribuan Ojol Hadiri Kopdar Kebangsaan Jaga Jakarta, Ada Perpanjangan SIM Gratis
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Villarreal di Liga Spanyol 2026/2027: Los Rojiblancos Diunggulkan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Novel Baswedan Soroti Dugaan Kompromi Penyelidikan KPK di Kabupaten Bogor
Prediksi Skor Athletic Bilbao vs Sevilla di Liga Spanyol 2026/2027: Los Leones Diunggulkan Menang
Tak Hanya Jenderal TNI-Polri, Pengusaha Haji Isam Dikabarkan Dapat Tugas Tangani Karhutla di Kalsel
