
TIGA AKTIVIS: Dari kiri, Kevin Limanto, Dian Prianka, dan Melvico Dharmawan, founder Hooman yang aktif di kegiatan sosial.
Berawal dari kecintaannya terhadap hewan, dosen Universitas Surabaya (Ubaya) Dian Prianka bersama dua temannya membuat ide kreatif kaus dengan brand Hooman. Sebagian besar penjualannya didonasikan untuk hewan-hewan telantar, panti asuhan, hingga lingkungan.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya
DIAN Prianka, Kevin Limanto, dan Melvico Dharmawan begitu menyukai hewan. Khususnya anjing. Namun, masih dijumpai hewan-hewan telantar di lingkungan masyarakat. Hal itu tentu tidak adil bagi hewan. Kondisi miris tersebut membuat para pencinta hewan sedih dan berkeinginan menolong.
’’Kami berpikir bagaimana cara kami bisa membantu hewan ini dengan cara yang gampang,” kata Dian saat ditemui Jawa Pos di gedung Fakultas Industri Kreatif (FIK) Universitas Surabaya (Ubaya) Senin (10/4).
Dian mengatakan, sebagian besar masyarakat yang peduli pada hewan kerap membuka donasi untuk membantu hewan-hewan telantar. Namun, cara membuka donasi dengan memberikan uang secara cuma-cuma rasanya kurang menarik bagi masyarakat.
Karena itu, dibuatlah brand kaus Hooman untuk bisa menarik perhatian masyarakat. ’’Jadi, mereka bisa menyumbang atau berdonasi dan membeli kaus,” ujarnya.
Kaus yang dijual juga bukan sembarang kaus. Dian bersama kedua temannya mendesain kaus dengan ciri khas yang unik. Dalam setiap kampanye sosial yang dilakukan, desain kaus akan menyesuaikan.
Kualitas kaus juga diperhatikan agar pembeli bisa menggunakan sekaligus ikut berkampanye. Contohnya, ketika mengampanyekan harimau sumatera, desain kaus akan diberi bordir harimau.
’’Ketika tertarik membeli kaus dengan desain yang bagus dan berkualitas, mereka sadar juga telah membantu hewan yang tidak punya suara,” jelasnya.
Hooman dibentuk pada 2019. Tujuan didirikannya brand tersebut adalah mengampanyekan kepedulian terhadap hewan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, target kampanye pun lebih luas. Tidak hanya pada hewan, tetapi juga manusia dan lingkungan.
’’Awalnya hanya donasi untuk selter anjing yang membutuhkan, tetapi terus berkembang hingga penangkaran penyu, penanaman pohon, hingga manusia,” katanya.
Dian menambahkan, hingga saat ini sudah ada delapan kampanye. Namun, banyak pula kampanye yang dilakukan secara berkesinambungan. Hooman juga lebih terbuka menerima informasi dari para pengikutnya terkait target penyaluran donasi.
’’Tujuan kami untuk donasi. Pembeli kaus adalah donatur. Jadi, setiap hasil donasi tersebut selalu kami laporkan ketika disalurkan,” ujarnya.
Selama mengembangkan Hooman untuk aksi sosial, lanjut dia, banyak juga hal yang dialami. Salah satunya, pernah tertipu penerima donasi palsu. Yakni, di salah satu selter di Palu. Setelah donasi disalurkan, ternyata selter tersebut fiktif. (*/c7/git)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
15 Kata Cristiano Ronaldo ke Lionel Messi Setelah sang Ayah Meninggal Dunia
Biaya Nany Widjaja untuk Lobi Pembelian Tanah Rp 50 M, Harga Tanah Hanya Rp 30 M
Bentrokan di USS Abraham Lincoln: 7 Prajurit Dilaporkan Tewas di Tengah Perang dengan Iran
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
