Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 Desember 2023 | 22.34 WIB

Tips Pendaki Selamat di Gunung Berapi, Utamakan Patuh Aturan dan Sopan

SAKSI MATA: Yasak dan timnya melakukan latihan pendakian di area pasir Gunung Bromo saat terjadi erupsi pada 2010. - Image

SAKSI MATA: Yasak dan timnya melakukan latihan pendakian di area pasir Gunung Bromo saat terjadi erupsi pada 2010.

JawaPos.com - Tragedi yang dialami para pendaki saat erupsi Gunung Marapi menggetarkan hati Yasak. Ingatan lelaki 33 tahun itu langsung terlempar ke 2010. Dia dan timnya menyaksikan langsung erupsi Gunung Bromo. Ketika itu, mereka sedang menjalani latihan pendakian menjelang Ekspedisi Seven Summits ke Gunung Elbrus di Rusia.

"Sebelum berangkat, kami mengecek status Bromo. Karena masih aman di zona tertentu, kami berangkat,” ceritanya kepada Jawa Pos kemarin (9/12).

Memang sudah ada peringatan erupsi Bromo. Namun, karena lokasi latihan pendakian ada di area yang berjarak 3 kilometer dari kawah, Yasak dan timnya memutuskan untuk tetap melanjutkan agenda mereka dengan mematuhi imbauan secara ketat.

Selama sepekan bermalam di area berpasir yang konturnya mirip dengan hamparan salju Elbrus, Yasak dan teman-temannya terus mendengar dentuman. Bangunan yang ada di dekat mereka ikut bergetar. Angin kencang yang kadang bertiup bersamaan dengan dentuman menambah ketegangan Yasak dan tim.

Hingga pada satu momen, langit menggelap. Bromo memuntahkan batu vulkanis yang warnanya merah menyala. "Secara psikologis kami terdampak ya meskipun di zona aman. Ngeri lihat lava pijar keluar kayak kembang api,” katanya.

SAKSI MATA: Yasak

Yasak menambahkan bahwa bencana memang selalu datang tiba-tiba. Apalagi, alam tidak pernah bisa ditebak. "Saya lupa kejadiannya tahun berapa. Jadi, kan setiap musim kemarau itu sering terjadi kebakaran di gunung. Saat itu saya ndaki Semeru. Di Oro-Oro Ombo, pas kami berangkat, tidak ada api sama sekali. Tapi, pas kami turun, ada kebakaran di sana,” kata Yasak tentang kebakaran yang dia saksikan saat mendaki Gunung Semeru.

Yasak dan kawan-kawannya terpaksa menunggu sampai api di jalur pendakian padam. Hari hampir petang saat petugas akhirnya mengizinkan dia melintas. Empat jam berlalu sejak kebakaran dilaporkan dan petugas belum berhasil memadamkan api secara keseluruhan.

"Karena kita mendaki bukan untuk memadamkan api, jadi nggak prepare alat. Tapi, sebetulnya titik rawan api bisa dipetakan, jadi bisa pendaki hindari,” bebernya.

Yang utama, lanjut Yasak, saat dihadapkan pada situasi darurat, segera amankan diri terlebih dahulu. Jika tidak mampu menanggulangi sendiri, segera lapor ke pihak terkait.

"Tak kalah penting, setiap pendaki harus berperilaku sopan dan selalu patuh aturan karena risikonya tinggi,” tandasnya. (lai/c7/hep)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore