Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 November 2023 | 23.30 WIB

Eddy Surohadi, Konsul Kehormatan Filipina Sekaligus Pendiri Olahraga Pernapasan Tetada Kalimasada

PERAGAKAN JURUS: Pendiri Tetada Kalimasada Eddy Surohadi (pakai topi) yang juga merupakan konsul kehormatan Filipina melatih para anggotanya di Hotel Gunawangsa Manyar (10/11). - Image

PERAGAKAN JURUS: Pendiri Tetada Kalimasada Eddy Surohadi (pakai topi) yang juga merupakan konsul kehormatan Filipina melatih para anggotanya di Hotel Gunawangsa Manyar (10/11).

Selain bertugas sebagai konsul kehormatan Filipina di Surabaya, Eddy Surohadi juga menjadi pelatih olahraga pernapasan. Dia mendirikan perguruan Tetada Kalimasada. Kini teknik pernapasan hasil kreasi Eddy sudah tersebar di 82 negara.

UMAR WIRAHADI, Surabaya

BELASAN orang berkumpul di pinggir kolam renang lantai 2 Hotel Gunawangsa Manyar Jumat (10/11) lalu. Mereka duduk dengan membentuk formasi tiga baris. Saat aba-aba berbunyi, mereka mengatupkan kedua tangan di depan dada. Seperti gerakan orang bersemedi.

Tidak lama kemudian, disusul gerakan yang lain. Kedua tangan dibentangkan ke kanan dan kiri. Pelan-pelan mereka berdiri. Tangan diayunkan meliuk-liuk. Kaki digerakkan ke depan dan belakang. Semua gerakan dilakukan dengan pelan-pelan.

Gerakan serupa diulang beberapa kali. Keringat pun mengucur dari tubuh mereka. ”Inti dari semua gerakan ini adalah olah pernapasan. Singkat dan praktis sehingga semua orang mudah mempelajarinya,” kata Eddy Surohadi, sang instruktur.

Sebanyak 14 orang yang berlatih itu tergabung dalam perguruan Tetada Kalimasada. Total keseluruhan anggota perguruan tersebut di Surabaya sebanyak 200 orang. ”Kami latihan di beberapa tempat,” tutur Eddy.

Gerakan yang diperagakan saat itu hanya beberapa bagian. Baru satu jurus. Adapun total jurus Tetada sebanyak 9 jurus. Setiap jurus memiliki 72 peregangan. Sehingga keseluruhan ada 648 jenis peregangan tubuh.

”Gerakannya simpel. Tapi untuk menguasai semua gerakan ini, teman-teman butuh waktu,” tutur alumnus ITS itu.

Eddy yang membuat semua gerakan itu. Dia meraciknya dari sejumlah cabang olahraga. Terutama ilmu bela diri yang dipelajarinya.

Sewaktu masih muda, Eddy juga menekuni ilmu bela diri dari ayahnya, R Suroso Sastrosudiro. Ayahnya dikenal sebagai pendekar di Probolinggo. ”Gerakan ini saya buat sendiri. Dipadukan dengan gerakan olahraga yang lain,” tutur pria yang genap berusia 70 tahun pada 4 Desember nanti itu.

Menurut dia, Tetada Kalimasada adalah olahraga pernapasan yang menggabungkan latihan fisik dan latihan spiritual. Sehingga bisa menyembuhkan sejumlah penyakit.

Di antaranya, menurunkan gula darah, tekanan darah rendah, penyakit asma, susah tidur, hingga vertigo. ”Ini seperti pengobatan diri sendiri dengan menggunakan energi dari dalam tubuh. Kuncinya karena olah pernapasan tadi,” ungkapnya.

Eddy mendirikan perguruan Tetada Kalimasada pada 24 November 1991. Dia termotivasi dari gerakan silat atau bela diri yang dipelajari dari ayahnya. Selain itu, tutur dia, leluhur bangsa Indonesia juga telah lama mengenal kegiatan spiritual lainnya. Salah satunya melalui semedi atau bertapa.

’’Dari situ saya tergerak menciptakan gerakan-gerakan ini. Tapi, sama sekali bukan gerakan mistis. Murni untuk olah pernapasan,’’ tegasnya.

Seiring waktu, olah pernapasan ala Tetada Kalimasada berkembang luas. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara lain. Mulai Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, sejumlah negara Eropa, sampai ke Amerika Serikat.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore