Logo JawaPos
Author avatar - Image
10 Maret 2026, 03.40 WIB

Jelang Lebaran 2026, Pemerintah Pastikan Harga BBM Non-Subsidi Tidak Naik

Pelanggan mengisi bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di pom bensin di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. (Dery Ridwansah/JawaPos.com) - Image

Pelanggan mengisi bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di pom bensin di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

JawaPos.com-Pemerintah memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi tidak akan mengalami kenaikan menjelang Idul Fitri 1446 H meskipun harga minyak dunia saat ini terus berfluktuasi imbas konflik geopolitik di Timur Tengah.

“Sebagaimana juga sudah disampaikan oleh Menteri ESDM atas arahan Presiden, bahwa harga BBM subsidi dipastikan tidak akan naik. Dengan demikian masyarakat bisa menjalankan Ramadhan dengan tenang dan menyambut Lebaran tanpa kekhawatiran," kata Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia di Jakarta, Senin (9/3). 

Ia mengatakan, keputusan tersebut diambil meskipun harga minyak dunia mengalami kenaikan cukup signifikan dibandingkan asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) dalam APBN yang berada di kisaran 70 dolar AS per barel.

Pada Senin, mengutip laporan Kyodo, harga minyak mentah berjangka sempat melampaui 111 dolar AS per barel atau mencapai level tertinggi sejak Juli 2022 seiring dinamika geopolitik global yang masih berlangsung.

Dwi juga menyampaikan bahwa kondisi stok BBM nasional masih dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.

"Tentu pemerintah akan terus melakukan pemantauan. Yang jelas, fokus utama saat ini adalah memastikan ketahanan energi nasional tetap aman sehingga masyarakat bisa menjalankan Ramadhan dan Lebaran dengan tenang," ujarnya.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat tidak melakukan aksi panic buying, karena ketersediaan stok BBM nasional berada di atas standar minimum yang dipersyaratkan.

Menurut dia, aksi pembelian berlebihan justru berpotensi mengganggu sistem distribusi yang sebenarnya dalam kondisi normal.

“Stok BBM nasional berada di atas standar minimum, sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk melakukan panic buying,” katanya.

Dwi mengatakan, stok BBM dan LPG yang dimiliki pemerintah di atas standar minimum cadangan operasional yakni melebihi 21 hari.

"Sebagai analogi, seperti kita memiliki toren air di rumah. Air digunakan setiap hari, tetapi setiap hari juga ada pengisian kembali," ujarnya.

Sumber untuk mengisi kembali stok BBM dan LPG itu, ujar dia, bisa dari produksi dalam negeri maupun impor dari berbagai negara.

Ia menambahkan, pemerintah saat ini terus memantau perkembangan geopolitik global serta dampaknya terhadap sektor energi guna memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga selama periode Ramadan dan Idul Fitri 2026. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore