
Alat pengubah bahan bakar dari sampah plastik. (Istimewa)
JawaPos.com-Di balik keindahan pantai dan terumbu karang, Kepulauan Karimunjawa tengah menghadapi dua ancaman serius. Penumpukan sampah plastik dan krisis energi yang kerap menghantam pulau kecil tersebut.
Kini, sebuah teknologi baru mencoba menjawab keduanya sekaligus, mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar setara solar. Melalui program PGN Share, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, meluncurkan teknologi Fast Pyrolysis (Faspol) di Pusat Daur Ulang (PDU) Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Mesin ini mampu mengkonversi plastik bernilai rendah menjadi petasol, bahan bakar cair yang bisa menggantikan solar untuk kebutuhan lokal.
Karimunjawa yang berpenduduk sekitar 10 ribu jiwa dan menampung lebih dari 82 ribu wisatawan per tahun, kini menghasilkan 1,5–2 ton sampah per hari, dengan 46 persen di antaranya berupa plastik.
Namun, terbatasnya lahan dan minimnya fasilitas pengolahan membuat sebagian besar sampah berakhir di pesisir atau dibakar di ruang terbuka. Mengancam kesehatan warga dan menurunkan daya tarik wisata.
“Kehadiran mesin Faspol ini merupakan langkah besar untuk menjawab tantangan limbah plastik di Karimunjawa. Selain menekan volume sampah, juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujar Sridana Paminto, Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Kemasyarakatan, dan SDM Kabupaten Jepara melalui keterangannya.
Masalah lain yang tak kalah genting adalah akses energi. Setiap musim baratan, pengiriman bahan bakar dari daratan Jawa sering terhambat cuaca buruk. Nelayan kesulitan melaut, dan beberapa fasilitas publik harus berhemat listrik.
Teknologi Faspol menjadi angin segar bagi ketahanan energi lokal. Dengan kapasitas 50 kilogram per siklus, mesin ini menghasilkan petasol yang telah diuji pada mesin Dongfeng, excavator TPA, dan perahu nelayan, menunjukkan performa setara solar konvensional.
"Faspol bukan sekadar solusi sampah, tapi juga sumber energi alternatif yang bisa membantu masyarakat bertahan saat pasokan BBM tersendat,” jelas Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman.
PGN mengembangkan Faspol bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Bank Sampah Banjarnegara. Program ini disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi sirkular, di mana limbah tidak lagi berakhir di tempat pembuangan, tapi kembali menjadi sumber daya produktif.
“Kami ingin memastikan pertumbuhan pariwisata di Karimunjawa berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan. Teknologi Faspol adalah bagian dari ekosistem green tourism yang melibatkan masyarakat,” ujar Fajriyah.
Meski menjanjikan, pengoperasian Faspol masih membutuhkan dukungan berkelanjutan, dari pasokan listrik, biaya operasional, hingga pelatihan masyarakat. Tanpa itu, inovasi berisiko berhenti sebagai proyek simbolis.
Namun jika berhasil, Karimunjawa bisa menjadi contoh penting bagaimana pulau-pulau kecil di Indonesia memerangi krisis sampah dan energi dengan pendekatan lokal yang berkelanjutan.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
