
Pengendara saat mengisi bahan bakar minyak di SPBU Kuningan, Jakarta, Rabu (30/3/2022). PT Pertamina (Persero) dikabarkan akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi jenis bensin dengan nilai oktan (RON) 92 alias Pertamax per Jumat, 1 April
JawaPos.com - Harga BBM yang terjangkau jelas jadi impian setiap warga negara. Sebab, efek berantai dari mahalnya harga BBM bisa langsung dirasakan oleh masyarakat sendiri.
Peka dengan hal tersebut, pemerintah memastikan akan menurunkan harga BBM. Eits, tapi bukan pemerintah Indonesia, melainkan pemerintah negara tetangga kita, Malaysia.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, memastikan harga bensin bersubsidi RON 95 akan diturunkan menjadi RM1,99 per liter atau sekitar Rp 6.900 sebelum akhir September 2025.
Kebijakan ini disebut sebagai langkah pemerintah untuk meringankan beban rakyat di tengah tingginya harga energi global.
“Sebagian marah karena September sudah berjalan tapi harga BBM belum turun. Saya bilang sebelum akhir September. Apakah 10 September itu akhir bulan? Apakah 15 September itu akhir bulan? Tunggu sedikit, nanti turun,” kata Anwar dalam pidatonya di Johor, Sabtu (21/9).
Saat ini, harga RON 95 berada di RM 2,05 per liter (sekitar Rp7.100), jauh di bawah harga pasar non-subsidi yang mencapai RM 2,50–RM 2,60 atau sekitar Rp 8.600–Rp 9.000.
Anwar menegaskan bahwa tidak banyak negara yang mampu memberi harga BBM serendah ini bagi rakyatnya.
Perbandingan dengan Indonesia
Pernyataan Anwar kembali memunculkan perbandingan dengan Indonesia. Saat ini, harga Pertalite (RON 90) dipatok Rp 10.000 per liter, sementara Pertamax (RON 92) berada di kisaran Rp 12.850–Rp 13.300 per liter.
Artinya, harga RON 95 di Malaysia hampir separuh dari harga Pertamax di Indonesia, padahal kualitas oktannya lebih tinggi.
Kondisi ini memicu pertanyaan publik: mengapa harga BBM di Indonesia justru lebih mahal, padahal negara ini merupakan produsen minyak?
Faktor subsidi, beban impor minyak mentah, hingga kebijakan fiskal disebut-sebut menjadi penyebab perbedaan mencolok tersebut.
Namun yang jelas, langkah Malaysia menurunkan harga BBM bersubsidi dinilai sebagai strategi politik sekaligus upaya menjaga daya beli masyarakat.
Sementara di Indonesia, pemerintah masih menahan diri untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi menjelang pembahasan RAPBN 2026, meski beban subsidi energi terus membengkak.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Bursa Skor Shamal vs Al Ittihad di Liga Champions Asia, Peluang Tim Tamu Kuasai Tanah Arab
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sebut MBG Tak Bermasalah, Sudaryono: Yang Bikin Ramai Guru, Ortu, Wartawan, Hingga LSM
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Prediksi Skor Torino vs Roma di Liga Italia: Giallorossi Siap Obrak-abrik Markas Il Toro

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022