Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Juni 2024 | 05.53 WIB

Melihat Proses Pengolahan Emas di Martabe Agincourt Resources (1)

Pembuangan (dumping) tailing ini pun prosesnya tidak sembarangan. Non acid forming (NAF) diletakkan pada bagian luar. Sedangkan Potential Acid Forming (PAF) yang menghasilkan air asam tambang akan diletakkan berdasarkan tingkat risikonya. Ini dimaksudkan agar tailing yang mengandung sulfur tinggi tidak kontak langsung dengan udara dan air saat datang hujan.

"Yang high risk kita taruh bagian dalam. Bagian luarnya lagi medium. Bagian luarnya lagi low risk. Bagian luarnya lagi NAF. Baru paling final itu media growth sekitar 0,8-1 meter top soil," jelas Mika.

Fasilitas nursery yang dimiliki PT Agincourt Resources di tambang emas Martabe, Tapanuli Selatan, untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati yang ada di wilayah kerja.

Lantas bagaimana dengan pit yang sudah habis dikeruk depositnya (mine out)?

Mika mencontohkan, Pit Barani akan mine out pada 2025 atau awal 2026. Rencananya pit ini akan dijadikan pond untuk co-disposal (untuk menimbun material tidak berharga), sekaligus direklamasi. Demikian pula dengan Pit Ramba Joring yang segera menyusul mine out.

TSF untuk Pengolahan Tailing

Fasilitas yang tak kalah krusial di tambang emas Martabe adalah Tailing Storage Facility (TSF). Bendungan ini tidak menampung air, melainkan limbah tailing, sisa hasil pengolahan dari pabrik. Material waste dari tambang digunakan untuk membentuk badan bendungan. Untuk diketahui, TSF di tambang emas Martabe ini telah memenuhi standar (ICOLD) International Commission on Large Dams dan standar bendungan nasional.

"Kita kerja sama dengan Balai Bendungan. Kita bentuk ini melalui perhitungan dan analisa teruji. Jadi, bendungan ini bukan seperti waduk yang dikonstruksi menggunakan konkrit, tetapi kita menggunakan material waste atau tanah penutup dari tambang," jelas Natar Purba, Superintendent TSF dan MSMD Operation PTAR.

Sebelum proses konstruksi dimulai, perlu ada izin dari Balai Bendungan. Selanjutnya, PTAR juga harus melaporkan secara periodik setiap enam bulan. Selain dari PTAR, terdapat tim panel ahli dari Australia dan Kanada yang melakukan review secara tahunan. Adapun daya tampung bendungan ini bisa mencapai 80 juta ton tailing. Tinggi maksimum bendungan yakni 117 meter, dan saat ini sudah menginjak 103-105 meter.

"Bendungan ini dikonstruksi sampai elevasi 377 mdpl (diperkirakan mencapai puncaknya 2027), saat ini di 368 mdpl," imbuh Anggie Hardian, Superintendent TSF Engineering PTAR.

Apakah sisa limbah air langsung dibuang ke sungai?

Tentu tidak. Tailing yang masuk ke TSF berupa lumpur bercampur air dengan komposisi 65:35. Air ini akan lari ke dua pompa. Satu pompa mengarah ke pabrik, karena pabrik ini membutuhkan air selama proses pengolahan. Pabrik mendapatkan air dari sumber kolam di TSF yang disebut supernatant pond.

Satu pompa lagi mengarah ke WPP atau Water Polishing Plant (WPP) atau IPA, untuk baku mutu air. "Misalkan nanti air sudah baku mutu, Ph parameter lain sudah sesuai, dia akan buka, lempar ke perairan bebas," terang Anggie.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore