
Ilustrasi Gedung Bursa Efek Indonesia
JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) per 1 Agustus 2018 mendatang membebaskan aturan pembayaran down payment (DP) atau uang muka untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Relaksasi Loan To Value (LTV) dalam bentuk pembebasan yang muka ini akan berlaku untuk pembelian rumah pertama.
Sayangnya, kebijakan tersebut belum sepenuhnya direspon positif bagi para pelaku pasar khsuunya investor saham. Tercermin, saham-saham sektor properti masih bergerak stagnan sejak kebijakan tersebut diumumkan.
Analis AAEI Reza Priyambada mengatakan, dengan nilai tukar rupiah yang saat ini masih belum menemukan titik stabilnya membuat barang-barang kebutuhan cenderung naik. Hal tersebut berimbas pada kemampuan daya beli masyarakat.
“Dengan rupiah yang kian melemah, tentunya akan membuat sejumlah barang kebutuhan naik dan berimbas pada kemampuan daya beli.. Termasuk juga daya beli properti..,” ujarnya kepada Jawapos.com, Minggu (8/6).
Menurutnya, besaran pengaruh LTV untuk sektor properti bergantung dari kemampuan data beli masyarakat. Pasalnya hal tersebut merupakan dampak langsung yang dirasakan untuk mendongkrak pembelian properti.
Beberapa saham perusahaan sektor properti kurang merespon positif kebijakan tersebut seperti, PT Modernland Realty Tbk (MDRN) yang masih stagnan di harga Rp 280 per lembar saham. Kemudian, PT Ciputra Development (CTRA) yang akhir pekan lalu turun 5 poin (0,53 persen) di harga Rp 940 per lembar saham.
Selain itu, ada PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) yang akhir pekan lalu juga masih turun 15 poin (1,04 persen) di harga Rp 1.430 per lembar saham. PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) turun 2 poin (0,65 persen) di harga Rp 306 per lembar saham. PT Sentul City Tbk (BKSL) yang stagnan di harga Rp 100 per lembar saham.
Namun ada juga saham yang masih bergerak positif seperti PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) yg akhir pekan lalu naik 2 poin (0,55 persen) di harga Rp 366 per lembar saham. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) naik 15 poin (2,75 persen) di harga Rp 560 per lembar saham. Dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) yang naik 5 poin (0,61 persen) di harga Rp 830 per lembar saham.
Reza menyampaikan, kebutuhan rumah memang ada, namun mahalnya harga rumah masih menjadi pertimbang masyarkat untuk membeli rumah.
“Orang akan menilai, kebutuhan rumah memang ada tapi kalau dia mampu nya sementara sewa atau ngontrak, ya itu yang dipilih... (harga saham properti) Muaranya kan ke daya beli masyarakat.. sekarang rumah baru misalkan harga Rp900jt-1,4 M.. Di kasih keringanan KPR.. Sementara dia punya daya beli di Rp180-250jt.. Gak match laahh,” tututnya.
Reza menuturkan, dampak realisasi terhadap kebijakan tersebut akan terasa pada perusahaan properti yang berfokus pada segmen hunian menengah dan menengah kebawah.
“Akhirnya yang nikmati LTV ya.. Orang-orang yang punya uang lebih dimana dia beli rumah untuk di kontrakin lagi.. kalau (perusahaan properti) Mreka kan trgantung dari berapa banyak rumah baru yang terjual. Mungkin yang (berdampak bagus) jual segmen low to mid ya,” tandasnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
