
Pegawai menunjukan mata uang dolar AS dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Selasa (14/4/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Rabu (4/11), setelah sebelummya ditutup melemah sebesar 7 poin menjadi Rp 18.156 per dolar AS pada perdagangan Selasa (3/11).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.
"Untuk perdagangan (4/11) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.160 - Rp 18.210,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Rabu (4/11).
Ibrahim mengatakan, dari sisi eksternal, perhatian pasar akan tertuju pada pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) Amerika Serikat (AS) yang berlangsung pada 3 November 2026. Selain itu, pelaku pasar juga akan mencermati serangkaian data ekonomi AS untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Data lowongan kerja atau JOLTS Job Openings dijadwalkan dirilis pada Selasa. Selanjutnya, data perubahan tenaga kerja versi ADP (ADP Employment Change) dan indeks ISM Services PMI akan diumumkan pada Rabu, menjelang laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dirilis pada Jumat.
Rangkaian data tersebut menjadi perhatian investor untuk mengukur kondisi pasar tenaga kerja dan prospek kebijakan moneter AS. Apabila data ekonomi menunjukkan kondisi yang lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed berpotensi tertahan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sementara dari sisi internal, kenaikan inflasi pangan pada Oktober menunjukkan bahwa tekanan harga kebutuhan pokok masyarakat masih cukup kuat. Inflasi pangan mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir akibat gangguan pasokan yang dipengaruhi fenomena El Niño, sehingga produksi dan distribusi sejumlah komoditas pangan terganggu.
Akibatnya, harga beras, cabai, sayuran, dan bahan pangan lainnya berpotensi meningkat. Bagi pasar, kondisi ini menjadi perhatian karena kenaikan harga pangan dapat menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan menengah ke bawah.
"Bagi pasar, kondisi ini menjadi perhatian karena kenaikan harga pangan dapat menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan menengah ke bawah. Meskipun inflasi umum sedikit melandai dan masih berada dalam target Bank Indonesia, kenaikan inflasi pangan menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup belum sepenuhnya mereda,” ujarnya.
Selain itu, kondisi surplus neraca perdagangan Indonesia masih menghadapi tantangan. Meskipun pada September 2026 surplus perdagangan mencapai USD 3,36 miliar atau tercatat lebih kuat dari perkiraan, tekanan tetap muncul karena pertumbuhan impor lebih cepat dibandingkan ekspor.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Matheus Lagoa Segera Bela Persebaya Surabaya, Cedera Betis Pulih, 30 Gol Jadi Modal
5 Cara Menemukan Jodoh Bagi Orang Introvert Yang Tidak Suka Bersosialisasi
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri
Prediksi Al Ittihad vs Al Ain di ACL Elite, Tuan Rumah Lebih Diunggulkan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022