Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Oktober 2026 | 13.48 WIB

Gejolak Geopolitik Tak Kunjung Usai, Subsidi Pemerintah Untuk LPG Tembus Rp 100 Triliun

Para pendukung milisi Houthi mengacungkan senjata saat berunjuk rasa di Sanaa, Yaman, pada 9 Oktober 2026. (AFP) - Image

Para pendukung milisi Houthi mengacungkan senjata saat berunjuk rasa di Sanaa, Yaman, pada 9 Oktober 2026. (AFP)

JawaPos.com - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengatakan total subsidi untuk liquefied petroleum gas atau LPG mencapai sekitar Rp 100 triliun. Lonjakan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) ini disebabkan gejolak geopolitik.

"Saat ICP-nya masih di 70 dolar AS per barel, itu subsidi kita mencapai Rp 87 triliun. Tetapi begitu ICP-nya rata-rata sekarang di angka 90 sampai 100 dolar AS per barel, subsidi kita di atas hampir Rp100 triliun,” ucap Bahlil dalam peresmian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat pada Kamis (15/10) dikutip dari Antara.

Bahlil yang juga merangkap sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan bahwa lonjakan tersebut terjadi akibat ketidakpastian geopolitik. Seperti perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, perang antara Ukraina melawan Rusia, serta perang yang melebar ke Arab Saudi. Berbagai perang tersebut, kata Bahlil, melahirkan ketidakpastian energi.

"Hampir semua dunia sekarang berpikir tentang bagaimana bisa mengamankan sektor energi mereka dari dalam negeri mereka masing-masing. Ini tantangan kita," ucap Bahlil.

Oleh karena itu, pemerintah saat ini sedang menyiapkan alternatif dari LPG, yakni CNG (compressed natural gas) atau gas alam dikompresi. Ia menyampaikan CNG bukanlah sumber energi baru sebab sejumlah restoran dan hotel sudah memakai CNG.

"Dan harganya lebih murah 30 sampai 40 persen. Itu memakai gasnya yang jenis C1, C2. Itu melimpah di negara kita," ucap Bahlil. Dengan demikian, ia meyakini CNG dapat menjadi substitusi impor LPG. Adapun yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah adalah memastikan kelancaran uji coba tabung 3 kg untuk CNG.

"Ini sebagai strategi untuk bagaimana kita melahirkan substitusi impor, namun tabungnya yang 3 kg ini lagi diuji. Kalau tabung yang 12 kg itu sudah dipakai," kata Bahlil.

Editor: Diar Candra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore