ILUSTRASI: Pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Istimewa)
JawaPos.com - Perombakan Menteri Perindustrian dan disahkanya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 menjadi alarm tersendiri untuk sektor industri di Indonesia.
Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, mengatakan kondisi tersebut tak terlepas dari kondisi sektor industri per kuartal terus menurun selama dua tahun terakhir ini.
Sebagaimana diketahui, pada kuartal 2 tahun 2025 (q2/25) sampai kuartal 2 tahun 2026 (q2/2026) tingkat pertumbuhan sektor industri terus merosot dari 5.48 persen menjadi hanya 4.5 persen.
“RAPBN 2027 yang baru disahkan juga tidak memberikan signal dorongan khusus terhadap industri sebagai penopng ekonomi yang paling besar,” ujar Didik dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis (1/10).
Didik mengatakan, kondisi tersebut akan mempersulit target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 hingg 7 persen. Menurutnya, bagaimana bisa pertumbuhan ekonomi akan mencapai 7 persen jika kondisi sektor industri lemah dan menurun seperti dua tahun terakhir ini.
Ia mengatakan, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan target yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) kontribusi manufaktur terhadap PDB ditargetkan meningkat dari baseline 18,67 persen menjadi 21,9 persen pada 2029, sementara target resmi pertumbuhan ekonomi adalah tumbuh 8 persen pada 2029.
“Target ini sudah pasti mustahil bisa dicapai jika kebijakan ekonomi dan industritidak berubah alias berjalan as usual,” ucapnya.
Menteri Baru Diminta Ubah Strategi
Didik mengatakan, penyegaran di posisi Menteri Perindustrian harus diikuti perubahan strategi dan kebijakan. Menurutnya, pemerintah tidak dapat kembali menjalankan kebijakan yang sama seperti dua tahun terakhir jika ingin mendorong industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.
“Kebijakan yang berjalan justru menghasilkan sektor industri yang semakin lemah dan tidak bisa menjadi penopang pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.
Ia menilai persoalan industri Indonesia tidak hanya berkaitan dengan desain kebijakan, tetapi juga hilangnya momentum pertumbuhan akibat persaingan dengan negara-negara di kawasan.
Selain pertumbuhan yang berada di bawah 5 persen, Didik menyoroti ketimpangan pertumbuhan antar-subsektor industri. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa pemulihan sektor industri belum terjadi secara merata.
Indikator lain terlihat dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang sempat berada di level 46,9 pada Juni 2026 dan 49,8 pada Agustus 2026. PMI kemudian kembali berada di level ekspansif sebesar 52,4 pada September 2026.
APBN 2027 Jadi Kunci
Didik menyebut struktur APBN 2027 yang telah disahkan pemerintah dan DPR belum terlihat sinyal kuat mengenai fokus anggaran untuk mendorong sektor produktif, khususnya industri.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan karena mengenai sejauh mana struktur APBN 2027 mampu mendukung akselerasi industrialisasi dan mendorong target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen.
Menurutnya, desain kebijakan fiskal dengan defisit yang cukup besar berpotensi lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembayaran utang dan mandatory spending untuk program sosial yang membutuhkan alokasi APBN dalam jumlah besar.
“Jadi jawaban pertanyaan tersebut sangat tergantung apakah ada perubahan desain kebijakan atau tetap status quo seperti sekarang. Yang jelas defisit yang besar bukan bukti dari adanya ekspansi produktif,” ujarnya.
Didik mengatakan, jika sektor industri hanya tumbuh sekitar 4,5 persen, maka sumbangannya terhadap pertumbuhan ekonomi tidak signifikan atau bahkan bisa dikatakan sangat marjinal.
Dengan porsi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB) sekitar 19 persen, secara sederhana pertumbuhan industri sebesar 4,5 persen hanya memberikan kontribusi sekitar 0,86 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen pada masa lalu turut didukung oleh pertumbuhan sektor industri yang mencapai dua digit. Karena itu, kondisi sektor industri saat ini menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam penyegaran kabinet, terutama dengan hadirnya menteri perindustrian yang baru.
"Jika tidak ada perubahan kebijakan dari sektor ini, maka jangan harap ekonomi bisa tumbuh sampai 7-8 persen. Lupakan cita-cita pemerintah yang berjanji kepada rakyat untuk mendorong ekonomi tumbuh 7-8 persen," pungkasnya.