Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 September 2026 | 23.45 WIB

The Fed Diproyeksikan Kerek Suku Bunga Acuan Sekali Lagi pada Triwulan IV

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memberikan keterangan pers seusai menggelar pertemuan di Jakarta, Kamis (24/9/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memberikan keterangan pers seusai menggelar pertemuan di Jakarta, Kamis (24/9/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memproyeksikan bank sentral AS atau The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuannya satu kali lagi pada triwulan IV 2026.

Sebagaimana diketahui,The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen pada Rabu, 16 September 2026 waktu AS.

"Seperti kita ketahui, belum lama ini The Fed juga menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin, dan kami masih memperkirakan akan ada kenaikan satu kali lagi di triwulan IV," kata Destry dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (28/9).

Destry menjelaskan, kenaikan suku bunga The Fed mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang lainnya. Indeks dolar AS (DXY) tercatat mencapai 101,11, sementara indeks dolar terhadap mata uang negara Asia mencapai 96,26.

Penguatan dolar AS itu juga berdampak terhadap aliran modal di negara berkembang (emerging market). Arus modal dari yang tadinya terparkir di negara berkembang, kembali beralih ke negara-negara maju, khususnya AS.

Selain itu, Destry menerangkan kecenderungan kenaikan suku bunga acuan The Fed juga berkaitan dengan meningkatnya tekanan inflasi global. Ia mencatat inflasi global saat ini telah mencapai 4,6 persen.

Menurut dia, peningkatan inflasi tersebut turut dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas energi di tengah konflik yang masih berlangsung di sejumlah wilayah dunia, terutama di kawasan Timur Tengah.

"Harga minyak yang terus meningkat di mana posisi 24 September mencapai 125,53 dolar AS per barel dan ini lebih tinggi dibanding rata-rata Agustus 2026 yang kisaran 90,88 dolar AS per barel ," ujar Destry.

Adapun Destry menilai prospek ekonomi global pada 2026 memang masih menghadapi tantangan. Namun, kondisi tersebut diperkirakan membaik pada 2027.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore