Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Juli 2026 | 00.45 WIB

Rupiah Melemah Tak Selalu Menguntungkan, Ekonom CORE: Eksportir Justru Tertekan

Pelemahan nilai tukar Rupiah tak mutlak menguntungkan. Bagi sebagian pelaku usaha yang mengandalkan bahan baku/penolong impor, kondisi ini tetap menjadi tantangan. (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Pelemahan nilai tukar Rupiah tak mutlak menguntungkan. Bagi sebagian pelaku usaha yang mengandalkan bahan baku/penolong impor, kondisi ini tetap menjadi tantangan. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Ekonom Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pelemahan nilai tukar rupiah tidak serta-merta memberikan keuntungan bagi eksportir Indonesia.

Menurutnya, dengan struktur ekspor nasional yang masih didominasi komoditas serta tingginya ketergantungan industri terhadap bahan baku impor membuat depresiasi rupiah lebih banyak memicu kenaikan biaya produksi dibanding meningkatkan daya saing ekspor.

Yusuf mengatakan pandangan bahwa pelemahan rupiah otomatis menguntungkan eksportir lebih relevan diterapkan pada negara yang basis ekspornya didominasi industri manufaktur dengan kandungan lokal yang tinggi.

"Saya juga kurang sependapat dengan pandangan bahwa pelemahan rupiah otomatis menguntungkan eksportir. Teori tersebut memang berlaku pada negara yang basis ekspornya didominasi manufaktur dengan kandungan lokal yang tinggi," ujar Yusuf kepada JawaPos.com, Sabtu (4/7).

Yusuf menjelaskan bahwa kondisi Indonesia berbeda karena struktur ekspor masih didominasi komoditas yang harga jualnya ditentukan di pasar internasional menggunakan dolar Amerika Serikat (AS).

Pasalnya, dengan karakter komoditas ekspor tersebut maka depresiasi rupiah tidak secara otomatis meningkatkan permintaan terhadap komoditas ekspor Indonesia.

"Struktur ekspor Indonesia berbeda karena masih didominasi komoditas yang harganya ditentukan di pasar internasional dalam dolar AS. Depresiasi rupiah tidak membuat permintaan terhadap komoditas tersebut meningkat," ucapnya.

Lanjutnya, ia menjelaskan kondisi tersebut tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang turun ke zona kontraksi. Selain itu, biaya input industri juga meningkat hingga mencapai salah satu level tertinggi sejak survei dilakukan.

"Kondisi itu terlihat dari PMI manufaktur yang turun ke zona kontraksi dan kenaikan biaya input yang mencapai salah satu level tertinggi sejak survei dilakukan," ujarnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore