Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi angkat suara soal beban berat yang ditanggung PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni). (Nurul Fitriana/JawaPos.com)
JawaPos.com – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi angkat suara soal beban berat yang ditanggung PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), terutama dalam melayani mobilitas masyarakat di wilayah Indonesia Timur. Hal ini ia sampaikan guna merespons lonjakan penumpang Pelni yang terjadi di wilayah Timur saat libur Natal tiba.
Ia pun mengaku sempat bertemu dengan Badan Pengelola (BP) BUMN dan juga Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) untuk meminta penambahan sekaligus meremajakan armada kapal Pelni.
Menurut Dudy, permintaan tersebut sudah pernah ia sampaikan dalam berbagai kesempatan. Tujuannya jelas, agar layanan transportasi laut yang menjadi urat nadi pergerakan warga di kawasan timur bisa berjalan lebih aman dan manusiawi.
“Kita mendorong Pelni untuk menambah. Kami di berbagai kesempatan sudah menyampaikan kepada BP BUMN, Danantara, supaya kapal-kapal Pelni, satu dilakukan peremajaan, kedua ditambah untuk melayani saudara-saudara kita. Khususnya di wilayah timur yang memang sangat bergantung kepada layanan transportasi laut,” ujar Dudy dalam acara Media Briefing, dikutip Kamis (1/1).
Dudy tak menampik, di lapangan sering muncul dilema besar bagi operator kapal. Ketika lonjakan penumpang terjadi, awak kapal kerap berada dalam posisi dilematis.
Dalam hal ini, Dudy menyampaikan laporan yang telah diterimanya bahwa jika penumpang tak diangkut karena melebihi kapasitas, risikonya justru bisa lebih besar.
“Kalau saya dengar laporannya kan kalau tidak diangkat kantornya dirusak. Para pegawai diancam. Kemudian khawatirnya terhadap sarana angkutannya yang kemudian dirusak. Akhirnya tetap diangkat,” ungkapnya blak-blakan.
Di sisi lain i menilai, salah satu pemicu utama membludaknya penumpang kapal Pelni adalah kebiasaan masyarakat yang belum terbiasa merencanakan perjalanan jauh-jauh hari. Di sisi lain, jadwal kapal Pelni memang tidak setiap hari singgah di pelabuhan tertentu.
“Masyarakat kita ini kan tidak terbiasa barangkali melakukan perencanaan perjalanan. Sudah tahu bahwa kapal itu singgahnya waktu tertentu, mungkin seminggu sekali, selalu pulangnya ya sama-sama pada saat yang sama,” jelas Dudy.
Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat lonjakan penumpang kerap terjadi dalam satu waktu bersamaan. Akibatnya, tekanan terhadap operator kapal semakin besar.
“Nah makanya itulah timbul kemudian ledakan penumpang yang cukup tinggi. Tidak diangkat salah, diangkat salah,” pungkasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
