
Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua Indonesia (Garda Indonesia) melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (17/9/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Polemik tarif dan komisi dalam industri transportasi online kembali mencuat. Hal ini menjadi tuntutan pada demonstrasi pengemudi ojek online alias ojol selama beberapa hari ini.
Terkait hal tersebut, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jakarta menilai perdebatan ini tidak cukup hanya sebatas pada besaran komisi aplikator.
Pemerintah dinilai perlu mengambil langkah lebih strategis dengan memperjelas komponen biaya, membuka transparansi data, dan melakukan evaluasi berkala agar kepentingan semua pihak tetap terakomodasi.
"Intervensi pemerintah seharusnya diarahkan pada kejelasan komponen biaya, transparansi data, serta mekanisme evaluasi berkala. Bukan sekadar memangkas margin aplikator," ujar Ketua MTI Jakarta, Yusa Cahya Permana kepada JawaPos.com.
Yusa menjelaskan, sejak awal transportasi online lahir di atas infrastruktur digital yang relatif bebas dari intervensi negara. Perusahaan aplikator bahkan kini telah berkembang menjadi super apps yang melayani beragam kebutuhan masyarakat, dari transportasi, makanan, hingga layanan keuangan.
Namun, seiring pertumbuhan tersebut, tuntutan penurunan komisi aplikator terus berulang. Padahal, menurut Yusa, sistem komisi bukanlah hal baru.
Mekanisme ini dianggap sebagai kelanjutan dari budaya 'setoran' yang sudah lama dikenal di dunia transportasi konvensional.
Tak hanya soal komisi, tarif juga menjadi isu sensitif. Meski demikian, Yusa menekankan bahwa keseimbangan antara jumlah pengemudi dan permintaan (supply-demand) jauh lebih menentukan ketimbang sekadar menetapkan besaran tarif.
"Kenaikan tarif berpotensi mempersempit basis pengguna, sementara penurunan tarif, jika tidak menurunkan kualitas layanan, justru dapat memperluas pasar," jelasnya.
MTI Jakarta juga mengingatkan, persoalan tarif seharusnya tidak dijadikan obyek politik jangka pendek. Menurut Yusa, pemerintah perlu memiliki peta jalan yang rasional agar ekosistem transportasi online tetap sehat dan tidak bergantung pada kebijakan instan.
Ia juga menekankan, model bisnis aplikator kini jauh lebih kompleks karena mencakup berbagai sektor, termasuk ritel dan keuangan. Dengan demikian, regulasi yang diterapkan tidak bisa parsial, melainkan harus lintas sektor sesuai perkembangan industri.
"Pemerintah harus punya strategi matang dalam menentukan kerangka regulasi. Tujuannya jelas: menjaga ekosistem tetap sehat, memastikan layanan berkualitas bagi masyarakat, sekaligus melindungi kesejahteraan driver," tegas Yusa.

Prediksi Skor Kolombia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Misi Los Cafeteros Lolos 16 Besar, Siap Kirim Pulang Wakil Afrika
Prediksi Skor Australia vs Mesir di 32 Besar Piala Dunia 2026: The Pharaohs Menang Tipis Lewat Duel Sengit
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Penjelasan Gol Offside Kroasia ke Gawang Portugal! Keputusan Kontroversial di 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Spanyol vs Austria: Bursa Taruhan Jagokan La Roja, Opta Klaim Peluang Menang 70,6 Persen
Kemenhub Ungkap Kronologi Putus Kontak Pesawat PK-RCY di Balinggama Papua, Pilot Dilaporkan Meninggal Dunia
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
