Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 Juli 2025 | 01.00 WIB

Satu Juta Sarjana Nganggur, Ketua MWA UT Minta Kampus Utamakan Kualitas, Apa Gunanya Lulusan Banyak tapi Tidak Berkiprah

Ketua Majelis Wali Amanah (MWA) Prof. Ainun Naim (tengah) di kampus Universitas Terbuka (UT) Tangerang Selatan (9/7). (Hilmi/Jawa Pos) - Image

Ketua Majelis Wali Amanah (MWA) Prof. Ainun Naim (tengah) di kampus Universitas Terbuka (UT) Tangerang Selatan (9/7). (Hilmi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Fenomena banyaknya sarjana yang menganggur jadi perhatian publik. Termasuk bagi Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Terbuka (UT) Prof. Ainun Naim. Dia menekankan bahwa kampus harus berlomba-lomba meningkatkan kualitas. Kampus tidak bisa hanya berpatokan pada kuantitas atau jumlah mahasiswanya saja. 

Keterangan tersebut disampaikan Ainun usai rapat penetapan hasil pemilihan rektor Universitas Terbuka periode 2025-2030 di Tangerang Selatan, Banten pada Kamis (9/7) sore. Forum MWA memutuskan Prof. Ali Muktiyanto sebagai rektor yang bakal menggantikan Mohamad Yunus. 

Lebih lanjut Ainun mengatakan untuk masuk dunia kerja tantangannya semakin kuat. Dia mengapresiasi para calon rektor UT yang dalam penyampaian visi dan misinya menekankan kampus yang lebih berdampak. Dengan demikian mereka lebih mengutamakan aspek kualitas. 

"Apa gunanya lulusan jika tidak berkiprah. Kita punya fokus lebih besar aspek kualitas," katanya. Selain itu Ainun juga mengatakan pentingnya pengembangan kurikulum. Supaya kurikulum yang dihadirkan untuk mahasiswa lebih relevan dengan kondisi dunia kerja sekarang. 

Diberitakan sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data yang cukup mengejutkan. Yaitu sebanyak satu juta lebih pengangguran di Indonesia memiliki ijazah Sarjana (S1). Merespon data tersebut, lulusan perguruan tinggi diminta tidak bertumpu pada lowongan jadi aparatur sipil negara (ASN) saja. Tetapi juga bisa menciptakan usaha, sesuai dengan bakat dan minatnya. 

Masukan tersebut disampaikan Rektor Universitas Terbuka (UT) Mohamad Yunus di sela seminar wisuda di Tangerang Selatan, Banten pada Senin (7/7). Dia mengatakan banyaknya lulusan sarjana yang nganggur itu terkait banyak faktor. Termasuk dinamika kebijakan pemerintah dan kondisi di masyarakat. 

Dia mencontohkan dengan segala kebijakan yang dibuat, iklim usaha di Taiwan sekarang lebih bagus. Dampaknya sejumlah perusahaan multinasional yang ada di Indonesia, pindah ke sana. Kondisi itu menambah banyak jumlah pengangguran. Akibatnya mahasiswa yang baru lulus kuliah, berebut lapangan kerja dengan masyarakat yang baru kehilangan pekerjaan. 

"Yang kedua, kita sebagai individu tidak boleh terpaku dengan satu target. Misalnya targetnya lulus kuliah jadi PNS," kata dia. Yunus mengatakan kuota PNS setiap tahunnya tidak banyak. Jauh lebih besar angkatan kerja atau pencari kerja. Buktinya setiap kali dibuka pendaftaran PNS atau ASN baru, pelamarnya selalu membludak. 

Begitupun dengan lapangan kerja yang disiapkan oleh perusahaan swasta maupun BUMN. Jumlahnya sangat terbatas. Jauh lebih sedikit daripada angkatan kerja. Maka Yunus menegaskan bagi para mahasiswa bercita-cita untuk jadi pegawai itu tidak dilarang. 

Namun dalam menjalani kehidupan, harus siap dengan situasi terburuk. Termasuk tidak lolos jadi abdi negara maupun bekerja di lembaga swasta. Maka cara yang bisa ditempuh adalah membuka usaha sendiri. Tentu penghasilan yang didapat tidak langsung besar.

"Tetapi bisa membuka lapangan pekerjaan, kalau sudah besar usahanya," katanya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore