
Dr. Dewa Putu Yudi Pardita, S.E., M.Si.
Oleh: Dr. Dewa Putu Yudi Pardita, S.E., M.Si.
Akademisi Universitas Warmadewa
Setiap kali pemerintah mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil di kisaran lima persen, narasi optimisme selalu membanjiri ruang publik. Secara makroekonomi, capaian tersebut merupakan prestasi tersendiri di tengah ketidakpastian iklim finansial global.
Namun, jika kita memalingkan wajah dari lembaran laporan statistik ke realitas keseharian, terdapat sebuah paradoks yang amat nyata. Kelas menengah kita justru sedang mengencangkan ikat pinggang secara paksa.
Keterputusan tajam ini terkonfirmasi oleh tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk. Merujuk data Badan Pusat Statistik tahun 2025, Gini Ratio nasional masih bertengger di angka 0,395 pada paruh pertama tahun ini. Bahkan, di pusat ekonomi utama seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat, angka ketimpangan di daerah perkotaan melonjak drastis hingga menyentuh level 0,441 dan 0,426.
Fakta ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa kue pertumbuhan lima persen tersebut tidak terdistribusi secara merata. Pertumbuhan itu ada, tetapi lebih banyak terakumulasi di puncak piramida kelompok atas, sementara kelas menengah ke bawah seolah hanya menikmati sisa remahannya.
Impitan ekonomi kelas menengah ini terekam sangat jelas dalam indikator kesejahteraan terbaru. Jika kita membedah data rata rata pengeluaran per kapita tahun 2025, beban hidup riil masyarakat di perkotaan sudah sangat mengkhawatirkan. Di Jakarta, misalnya, rata rata pengeluaran telah menyentuh nyaris tiga juta rupiah per kapita setiap bulannya, dimana porsi terbesar langsung tersedot untuk kebutuhan makanan dan biaya dasar nonmakanan.
Artinya, bagi sebuah keluarga kelas menengah beranggota empat orang, biaya hidup absolut bisa menguras belasan juta rupiah per bulan. Dengan struktur pendapatan yang stagnan, tabungan kelas menengah terus tergerus habis.
Sedikit saja terjadi guncangan finansial seperti pemutusan hubungan kerja, mereka akan langsung tergelincir turun kasta. Hal ini tecermin dari tingkat kemiskinan tahun 2025 di lumbung demografi utama seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat yang masih terus menghantui, menampung limpahan dari kelas menengah yang kehilangan pijakan finansialnya.
Situasi muram ini diperparah oleh tekanan harga yang terus menggerogoti nilai riil pendapatan mereka dari bulan ke bulan. Kenaikan gaji pekerja formal kerap kali tertinggal jauh dari laju inflasi kebutuhan hidup dasar. Berdasarkan catatan inflasi tahun kalender hingga awal tahun 2026, tekanan harga di berbagai daerah terus menunjukkan tren eskalasi yang membebani daya beli.
Secara nominal, slip gaji kelas menengah mungkin terlihat naik tipis setiap awal tahun seiring penyesuaian upah minimum. Akan tetapi, secara riil daya beli mereka sebenarnya negatif karena selisih kenaikan gaji tersebut langsung menguap di pasar, tersedot habis oleh inflasi bahan pangan yang fluktuatif.

Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Prediksi Skor Pantai Gading vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Misi Erling Haaland Pulangkan Wakil Afrika
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Sejarah! Indonesia Juara AVC Men's Cup 2026 Hancurkan Korea Selatan 3-0
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di 32 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Pembuktian Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Jepang di 32 Besar Piala Dunia 2026: Marquinhos Akui Samurai Biru Sedang Percaya Diri
Prediksi Susunan Pemain Timnas Norwegia vs Pantai Gading di 32 Besar Piala Dunia 2026: Sudah Lakukan Rotasi, Martin Odegaard Siap Menan
Pakai Tas Mewah, Tiga Pengasuh Anak-anak Raffi Ahmad-Nagita Slavina Sedang Asik Liburan Jadi Sorotan
Prediksi Skor Belanda vs Maroko di Piala Dunia 2026: Oranje Dijagokan Menang Tipis Kontra Singa Atlas
