Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Juni 2025 | 04.53 WIB

Pertumbuhan Kredit Melambat Karena Faktor Cyclical di Awal Tahun

Ilustrasi OJK. - Image

Ilustrasi OJK.

JawaPos.com - Tingginya ketidakpastian global salah satunya disebabkan oleh laju pemangkasan suku bunga bank sentral yang melambat. Terutama, suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed). Ditambah, eskalasi perang dagang melalui kebijakan pengenaan tarif impor pemerintah Amerika Serikat (AS) serta dinamika konflik geopolitik yang masih terjadi di beberapa kawasan.

"Memang harus diakui ya, sedikit banyak telah memengaruhi ekonomi global maupun domestik. Hal tersebut tentu ada menimbulkan, bisa kekhawatiran investor dan pelaku usaha terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang. Serta menyebabkan tertahan ekspansi usaha maupun konsumsi," ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae dalam paparan rapat dewan komisioner bulanan, Senin (2/6).

Secara empiris, lanjut dia, data triwulan I 2025 berbagai negara, termasuk Indonesia, menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi. Akhir-akhir ini, salah satu dampak yang terlihat adalah kecenderungan para investor untuk mengalihkan investasinha ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven) maupun di sektor yang dinilai telah stabil. Meskipun dengan imbal hasil yang tidak terlalu tinggi.

Di tengah dinamika global tersebut, kinerja penyaluran kredit nasional per April 2025 tetap tumbuh 8,88 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp 7.960,94 triliun. Memang harus diakui melambat jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "Yang antara lain disebabkan faktor cyclical pada awal tahun," ujar Dian.

Berbicara kinerja masing-masing bank, secara agregat berdasarkan pembahasan rencana bisnis antara pengawas dan perbankan (prudential meeting), tidak terdapat penyesuaian yanh signifikan pada target pertumbuhan kredit 2025. Hanya saja, OJK memberikan kesempatan perbankan untuk merevisi target rencana bisnisnya pada akhir September 2025. Tentunya dengan mempertimbangkan dinampaknya programen industri perbankan.

"Khususnya jika terdapat faktor-faktor yang mengakibatkan perlunya dilakukan penyesuaian. Jadi rangenya masih tetap di antara 9 sampai 11 persen pertumbuhannya (kredit) sesuai dengan prediksi OJK di awal tahun," katanya.

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis point (bps) menjadi 5,50 persen pada 21 Mei 2025. Begitu pula, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menurunkan tingkat bunga penjaminan (TBP) simpanan dalam rupiah di bank umum dan bank perekonomian rakyat (BPR) sebesar 25 basis point (bps) dalam usai rapat dewan komisioner (RDK), 27 Mei. Secara historikal, transmisi kebijakan itu memang selalu membutuhkan waktu untuk mengimplementasikan di perbankan.

OJK menilai transmisi suku bunga bisa berbeda-beda antar bank. Tergantung pada struktur perdanaan, likuditas, profil risiko, dan strategi bisnis masing-masing bank. Oleh karena itu bank dapat melakukan penyesuaian secara transparan dan bertahap.

"Dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang memadai, terutama atas risiko yang melakat atau inherent. OJK juga terus memonitor dan memperkuat arahan kebijakan agar transmisi kebijakan moneter berjalan lebih efektif dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," tandasnya. 

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore