
Presiden Prabowo memanggil dua menteri CEO GoTo Patrick Walujo di Kompleks Istana Negara hari ini Senin (10/3). (FERLYNDA PUTRI/JAWA POS)
JawaPos.com - Usai beberapa petinggi GoTo mengundurkan diri, hal tersebut mempertegas isu bahwa PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) sedang tidak sehat.
Ditambah lagi, sejak IPO, saham GoTo memang tidak pernah berhasil memikat investor. Kini muncul rumor bahwa Grab, berencana untuk mengakuisisi GoTo.
Menanggapi hal tersebut, Ekonom Senior Segara Research Institute, Piter Abdullah menjelaskan, pemerintah Indonesia diminta terus mengawasi dan bersikap cermat terkait wacana penggabungan usaha atau merger dua raksasa digital di Indonesia, yakni Grab dan GoTo yang membawahi Gojek.
Piter menyebut, peran otoritas negara dalam hal ini sangat krusial, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Kementerian ini harus secara intensif mengawasi potensi dampak merger terhadap perlindungan data pengguna, serta dampaknya bagi konsumen dan UMKM.
“Pemerintah dari Komdigi harus melihat dari sisi data, penguasaan informasi teknologi data. Kalau dimiliki asing, harus jadi perhatian Komdigi. Kemudian juga terkait perlindungan konsumen dan UMKM di masing-masing sektor kementerian,” kata Piter di Jakarta, Jumat (9/5).
Tak hanya itu, Piter juga menyoroti aspek nasionalisme dalam wacana merger tersebut. Menurut dia, status kepemilikan asing Grab bisa berdampak terhadap banyak hal, dibandingkan dengan GoTo yang notabene diketahui sebagai perusahaan lokal yang didirikan oleh anak bangsa.
Piter mengingatkan bahwa sektor digital bukan sekadar bisnis, namun juga menyangkut penguasaan atas data masyarakat dan keamanan strategis negara.
“Siapa yang akan mengakuisisi? Kalau seandainya Grab, tentu harus dipertimbangkan dan melihat sisi nasionalisme. GoTo ini kan karya anak bangsa, jadi sesuatu yang harus kita pertimbangkan. Jangan sampai diakuisisi Grab yang notabene dari asing,” katanya.
Menurut dia, ini adalah teknologi yang menggunakan data, rangkaiannya jadi banyak. Jika yang menguasai jadi asing maka jadi penting terkait keamanan data.
Piter juga menambahkan bahwa tidak ada urgensi dan kebutuhan dari masing-masing aplikator untuk melakukan akuisisi/merger. “Kalau saya melihatnya ini nggak ada urgensi dari keduanya untuk merger,” ucap Piter.
Dia juga menekankan bahwa baik GoTo maupun Grab, sebenarnya telah memiliki ekosistem bisnis digital yang serupa. Sehingga potensi merger lebih didorong oleh ambisi menguasai pangsa pasar.
“Ekosistem mereka ini kan sama, jadi sepertinya kepentingannya hanya untuk market share dan menguasai market share," tegas Piter.
Sebelumnya santer diberitakan Reuters bahwa rencana merger kedua raksasa teknologi digital itu semakin menjadi kenyataan. Menurut sumber Reuters, Grab dikabarkan mencari pinjaman US$ 2 miliar (Rp 33,16 triliun) untuk membiayai rencana akuisisi GoTo.
Pihak Goto dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengiyakan adanya informasi penawaran yang masuk, tapi hingga saat ini belum ada keputusan.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
