Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 Mei 2025 | 02.45 WIB

Beredar Rumor Merger GoTo dan Grab, Ekonom Ingatkan Potensi Ini Bisa Muncul Bila Mereka Bergabung

Presiden Prabowo memanggil dua menteri CEO GoTo Patrick Walujo di Kompleks Istana Negara hari ini Senin (10/3). (FERLYNDA PUTRI/JAWA POS) - Image

Presiden Prabowo memanggil dua menteri CEO GoTo Patrick Walujo di Kompleks Istana Negara hari ini Senin (10/3). (FERLYNDA PUTRI/JAWA POS)

JawaPos.com - Usai beberapa petinggi GoTo mengundurkan diri, hal tersebut mempertegas isu bahwa PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) sedang tidak sehat.

Ditambah lagi, sejak IPO, saham GoTo memang tidak pernah berhasil memikat investor. Kini muncul rumor bahwa Grab, berencana untuk mengakuisisi GoTo.

Menanggapi hal tersebut, Ekonom Senior Segara Research Institute, Piter Abdullah menjelaskan, pemerintah Indonesia diminta terus mengawasi dan bersikap cermat terkait wacana penggabungan usaha atau merger dua raksasa digital di Indonesia, yakni Grab dan GoTo yang membawahi Gojek.

Piter menyebut, peran otoritas negara dalam hal ini sangat krusial, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Kementerian ini harus secara intensif mengawasi potensi dampak merger terhadap perlindungan data pengguna, serta dampaknya bagi konsumen dan UMKM.

“Pemerintah dari Komdigi harus melihat dari sisi data, penguasaan informasi teknologi data. Kalau dimiliki asing, harus jadi perhatian Komdigi. Kemudian juga terkait perlindungan konsumen dan UMKM di masing-masing sektor kementerian,” kata Piter di Jakarta, Jumat (9/5).

Tak hanya itu, Piter juga menyoroti aspek nasionalisme dalam wacana merger tersebut. Menurut dia, status kepemilikan asing Grab bisa berdampak terhadap banyak hal, dibandingkan dengan GoTo yang notabene diketahui sebagai perusahaan lokal yang didirikan oleh anak bangsa.

Piter mengingatkan bahwa sektor digital bukan sekadar bisnis, namun juga menyangkut penguasaan atas data masyarakat dan keamanan strategis negara.

“Siapa yang akan mengakuisisi? Kalau seandainya Grab, tentu harus dipertimbangkan dan melihat sisi nasionalisme. GoTo ini kan karya anak bangsa, jadi sesuatu yang harus kita pertimbangkan. Jangan sampai diakuisisi Grab yang notabene dari asing,” katanya.

Menurut dia, ini adalah teknologi yang menggunakan data, rangkaiannya jadi banyak. Jika yang menguasai jadi asing maka jadi penting terkait keamanan data.

Piter juga menambahkan bahwa tidak ada urgensi dan kebutuhan dari masing-masing aplikator untuk melakukan akuisisi/merger. “Kalau saya melihatnya ini nggak ada urgensi dari keduanya untuk merger,” ucap Piter.

Dia juga menekankan bahwa baik GoTo maupun Grab, sebenarnya telah memiliki ekosistem bisnis digital yang serupa. Sehingga potensi merger lebih didorong oleh ambisi menguasai pangsa pasar.

“Ekosistem mereka ini kan sama, jadi sepertinya kepentingannya hanya untuk market share dan menguasai market share," tegas Piter.

Sebelumnya santer diberitakan Reuters bahwa rencana merger kedua raksasa teknologi digital itu semakin menjadi kenyataan. Menurut sumber Reuters, Grab dikabarkan mencari pinjaman US$ 2 miliar (Rp 33,16 triliun) untuk membiayai rencana akuisisi GoTo. 

Pihak Goto dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengiyakan adanya informasi penawaran yang masuk, tapi hingga saat ini belum ada keputusan.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore