Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 9 Maret 2024 | 22.00 WIB

El Nino Diprediksi Berakhir April 2024, tapi Setelahnya Ada Indikasi Muncul La Nina

Kondisi lahan rawa di Desa Margamulya, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten mengalami kekeringan akibat kemarau panjang dampak dari fenomena El Nino. (ANTARA/Azmi Samsul Maarif) - Image

Kondisi lahan rawa di Desa Margamulya, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten mengalami kekeringan akibat kemarau panjang dampak dari fenomena El Nino. (ANTARA/Azmi Samsul Maarif)

JawaPos.com - Vice Chair Working Group I, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sekaligus Profesor Meteorologi dan Klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Edvin Aldrian, mengatakan bahwa 2023 merupakan tahun terpanas dengan kenaikan suhu global hingga 1,52 derajat Celcius. Hingga Maret 2023, tercatat kenaikan suhu ini melebihi batas yang ditetapkan pada Perjanjian Paris yaitu 1,5 derajat celcius.

Menurut laporan IPCC, tambahnya, pada tahun 2030 kenaikan suhu bumi diperkirakan akan naik lebih cepat dari beberapa prediksi sebelumnya. Perkiraan yang dirilis pada 2019 menyebutkan 2052 kenaikan suhu akan tembus beberapa derajat. Namun, perkiraan terbaru yang dirilis 2020 menyebutkan, level suhu tersebut akan dicapai pada 2042 alias 10 tahun lebih cepat.

"Suhu di bumi sudah melebihi 1,5 derajat celcius sepanjang dua belas bulan, Januari sampai Desember 2023. Kondisi ini terjadi 10 tahun lebih cepat dari prediksi sebelumya," ungkapnya dalam diskusi bertajuk Bahan Pokok Mahal: Pentingnya Keberlanjutan Pangan di Tengah Krisis Iklim, beberapa waktu lalu.

Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supari menyebutkan bahwa El Nino yang terjadi pada tahun 2023 merupakan kategori El Nino Moderat dengan indeks anomali suhu muka laut di Pasifik tengah mencapai nilai 2,0 pada Desember 2023. Menurutnya, dampak El Nino luar biasa terutama pada bulan Agustus hingga Oktober yang ditandai curah hujan yang sangat rendah terjadi di beberapa wilayah.

Bahkan kondisi tanpa hujan paling tinggi selama 222 hari tidak ada hujan terjadi di Lombok, NTB. "Sementara itu untuk kondisi tanpa hujan lebih dari dua bulan terjadi di wilayah mulai dari Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Tengah dan Selatan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Papua, sehingga dapat dipahami banyak daerah yang mengalami kondisi produksi pangan yang tidak maksimal," katanya.

El Nino yang terjadi sepanjang 2023 berakibat pada terganggunya produktivitas bahan pangan seperti beras dan minyak goreng. Berdasarkan data Bapanas, produksi beras periode Januari-April 2024 hanya 10,7 juta ton, lebih rendah 2,28 juta ton (17,57 persen) dibandingkan periode sama 2023 yang mencapai 12,98 juta ton.

Beberapa bulan terakhir, sudah dirasakan oleh masyarakat, kenaikan harga beras yang melambung tinggi. Meskipun ada intervensi dari pemerintah, namun diakui bahwa kondisi serupa dialami oleh banyak negara produsen pangan, sehingga menimbulkan ancaman krisis pangan. Sementara belum diketahui pasti kapan El Nino akan berakhir.

Tapi menurut Supari, El Nino diprediksi akan berakhir pada April tahun 2024, dan kemudian ada indikasi munculnya La Nina pada semester kedua 2024. "Tahun 2024 terdapat indikasi awal bahwa akan datang fenomena La Nina yaitu mendinginnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur," ujarnya.

Lebih lanjut, Supari mengatakan bahwa selama 10 tahun terakhir kita lebih sering menghadapi iklim ekstrem baik itu El Nino, La Nina, maupun IOD. Hanya pada 2016 yang kondisi iklim globalnya netral, saat Indonesia mengalami musim kemarau.

Jika La Nina benar akan hadir pada tahun 2024, maka musim kemarau akan terjadi dengan sifat lebih basah. Hal ini akan baik untuk tanaman padi karena air tercukup. Namun mungkin tidak cukup baik untuk tanaman hortikultura seperti sayuran dan cabai karena curah hujan yang berlebihan.

Dia menegaskan pentingnya untuk memahami informasi iklim ekstrem untuk mengurangi risiko dan dampaknya. Pemerintah perlu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai literasi iklim, khususnya bagi para petani yang sebagian besar terdiri dari generasi muda.

"Sehingga mereka melek teknologi informasi dan itu merupakan peluang untuk memberikan pemahaman pada setiap petani untuk mengurangi dampak risiko iklim ekstrem," ungkapnya.

Prof Edvin menambahkan kondisi Indonesia diuntungkan karena berada pada posisi adanya aliran Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia, yang dikenal dengan aliran throughflow dimana aliran ini menjadi sinyal laut yang penting untuk memprediksi El Nino pada enam bulan kedepan dengan bantuan pemodelan laut.

"Dengan memanfaatkan sinyal di laut ini, Indonesia dapat memprediksi kedatangan ENSO (anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik), baik itu El Nino maupun La Nina yang dapat dimanfaatkan untuk kesiapan pangan dan antisipasi bencana kekeringan terutama bahaya kebakaran hutan," tutupnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore