
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor BI, Jakarta, Kamis (19/9/2019). Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen. F
JawaPos.com – Untuk kali keempat sepanjang tahun ini, Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan 7-day repo rate. Keputusan itu mempertimbangkan perkiraan inflasi yang rendah, stabilitas eksternal, serta langkah lanjutan untuk mempercepat pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19.
Kemarin (16/7) BI menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,00 persen. Angka tersebut terendah dalam empat tahun.
Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan, pertumbuhan ekonomi kuartal II bisa terkontraksi hingga -4 persen. ”Dari hasil asesmen kami, memang penurunan kegiatan ekonomi, khususnya pada April dan Mei, sejalan dengan dampak pembatasan sosial berskala besar (PSBB),” kata Perry dalam konferensi pers virtual hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI kemarin.
Memasuki Juni, geliat perekonomian mulai membaik seiring pelonggaran PSBB. Namun, itu belum kembali pada level sebelum pandemi Covid-19. Hal tersebut tecermin dari nilai indeks keyakinan konsumen (IKK) Juni sebesar 83,8. Lebih baik jika dibandingkan dengan Mei sebesar 77,8.
Perry menuturkan, keputusan RDG BI kembali menurunkan suku bunga acuan untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional. Berdasar data BI, penurunan tersebut sudah kali keempat sepanjang 2020. Sebelumnya, penurunan suku bunga acuan terjadi pada Februari, yakni 4,75 persen, dari sebelumnya 5 persen pada Januari. Lalu, Maret turun menjadi 4,5 persen dan dipertahankan hingga April dan Mei. Pada Juni, suku bunga acuan turun menjadi 4,25 persen.
Selain itu, suku bunga tersebut merupakan yang terendah sepanjang masa pemberlakuan BI 7-day repo rate sejak April 2016. Saat itu 5,5 persen. BI pernah menetapkan suku bunga acuan 4,25 persen pada periode 22 September 2017 hingga 19 April 2018. Setelah itu, terus meningkat hingga menyentuh 6 persen pada 15 November 2018 hingga 20 Juni 2019. Dan, selama 24 Oktober 2019 sampai 23 Januari 2020 bertahan di 5 persen.
Perry mengatakan, pihaknya telah menyuntikkan likuiditas (quantitative easing) di perbankan sebanyak Rp 633,24 triliun. Perinciannya, penurunan giro wajib minimum (GWM) sekitar Rp 155 triliun dan ekspansi moneter sekitar Rp 462,4 triliun.
Menurut dia, likuiditas yang memadai serta penurunan suku bunga acuan BI berkontribusi menurunkan suku bunga perbankan. ”Sejalan dengan penurunan suku bunga pasar uang antarbank (PUAB), rerata tertimbang suku bunga deposito dan kredit modal kerja pada Juni 2020 menurun menjadi 5,74 persen dan 9,48 persen dari 5,85 persen dan 9,60 persen pada bulan sebelumnya,” papar pria asal Sukoharjo, Jawa Tengah, tersebut.
Sementara itu, untuk mencukupi pembiayaan penanganan pandemi Covid-19, pemerintah melebarkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Dari semula 1,76 persen produk domestik bruto (PDB) menjadi 5,07 persen (Perpres No 54 Tahun 2020) dan 6,34 persen (Perpres No 72 Tahun 2020). Kondisi tersebut mengharuskan pemerintah dan BI berbagi beban (burden sharing) untuk menambal defisit. Situasi tersebut membuat beberapa ekonom khawatir akan meningkatnya inflasi. ”Insya Allah tidak untuk tahun ini. Kenapa? Karena inflasi kami perkirakan masih tetap rendah,” tegas Perry.
Di sisi lain, ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, penurunan suku bunga acuan BI mempertimbangkan stabilitas perekonomian yang terjaga. Itu terindikasi dari stabilnya nilai tukar rupiah, ekspektasi rendahnya defisit transaksi berjalan, serta rendahnya inflasi sisi permintaan. ”Pelonggaran kebijakan moneter tersebut diperkirakan akan mendorong stimulus bagi demand side perekonomian, yakni konsumsi rumah tangga dan investasi,” terang Josua.
Dari sisi produksi, kata dia, penurunan suku bunga acuan BI akan mendukung pemulihan permintaan kredit yang masih dalam tren menurun di kuartal II tahun ini. Dengan menurunkan suku bunga acuan, harapannya bertransmisi ke suku bunga kredit. Dengan demikian, beban perusahaan maupun sektor usaha akan terkurangi. ”Dengan kombinasi percepatan belanja stimulus fiskal dan pelonggaran kebijakan moneter BI, diperkirakan akan dapat mendorong pemulihan ekonomi pada kuartal III 2020 sehingga mengurangi potensi resesi ekonomi,” ulasnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=iTUPxo7tefg
https://www.youtube.com/watch?v=tr_MLP3FaYc
https://www.youtube.com/watch?v=nn5QU6svF6o

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Laga Hidup-Mati, Siapa Bertahan dari Jurang Eliminasi?
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Duel Hidup dan Mati Siapa Lolos dari Grup J
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Skor Argentina vs Austria di Piala Dunia 2026: Menantikan Sihir Lionel Messi Hadapi Das Team
Prediksi Skor Prancis vs Irak di Piala Dunia 2026: Kylian Mbappe Siap Mengamuk Kalahkan Singa Mesopotamia
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
