Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Mei 2026 | 04.17 WIB

Industri Otomotif Dihantam Kenaikan Suku Bunga: Konsumen Tahan Beli Mobil, Ekspansi Berkurang

ILUSTRASI. Pengunjung melihat langsung deretan kendaraan listrik premium dalam pembukaan Indomobil Expo Surabaya di Pakuwon Mall, Selasa (19/5). (Juliana Christy/ Jawa Pos) - Image

ILUSTRASI. Pengunjung melihat langsung deretan kendaraan listrik premium dalam pembukaan Indomobil Expo Surabaya di Pakuwon Mall, Selasa (19/5). (Juliana Christy/ Jawa Pos)

JawaPos.com - Kenaikan suku bunga atau BI-Rate sebesar 50 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen diprediksi berdampak terhadap berbagai sektor industri, salah satunya otomotif. Para pelaku industri memiliki PR tersendiri untuk mengatasi hal ini.

Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef, Andry Satrio Nugroho, menjelaskan, sejatinya hal ini merupakan suatu keterpaksaan bagi Bank Indonesia (BI) demi menstabilkan kurs. Tapi di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan bank sentra akan menjadi beban tersendiri bagi pelaku industri otomotif.

“Mereka yang ingin ekspansi, ingin meningkatkan utilitas produksi, itu pada akhirnya sulit mendapatkan kredit yang kompetitif. Kredit yang hari ini saja nilainya cukup tinggi, biayanya cukup besar, apalagi ketika nanti BI-Rate ini sudah terimplementasi di perbankan,” kata Andry saat ditemui JawaPos.com di Jakarta, Kamis (21/5).

Naiknya suku bunga acuan ditengarai bakal berimbas pada biaya ekspansi yang akan semakin meningkat. Bahkan, konsumen juga akan berpikir dua kali untuk melakukan pembelian kendaraan.

“Tidak hanya kendaraan tetapi juga properti, yang mana banyak diantaranya masih menggunakan skema kredit gitu. Semakin mahal yang akan ditanggung oleh konsumen. Dan pastinya dari sisi produsen mereka akan wait and see, dari sisi konsumen mereka akan menahan pembelian gitu. Jadi, itu yang akan terjadi sih,” ungkap dia.

Andry sendiri menilai situasi seperti ini akan berdampak besar bagi penjualan kendaraan konvensional ataupun elektrifikasi mengalami penurunan. Terlebih, kendaraan listrik yang memiliki sisi premi atau biaya kredit yang jauh lebih tinggi.

“Implikasi yang akan terjadi adalah kelesuan sebenarnya. Kelesuan dari sisi industri dan juga dari sisi konsumen,” tukasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore