JawaPos Radar

Maksimalkan Potensi, Ratusan Desa di Malang Pamer Inovasi

15/10/2018, 22:28 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Inovasi UMKM Malang
OLAHAN SAMPAH: Replika motor dari bahan botol dan plastik bekas menghiasi bursa inovasi desa 2018. (Tika Hapsari/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Sebanyak 378 desa di Kabupaten Malang unjuk inovasi dalam ajang Bursa Inovasi Desa 2018, di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (15/10). Beragam inovasi ditampilkan. Mulai dari inovasi soal pemanfaatan sampah, lingkungan, ekonomi, wisata, UKMKM hingga literasi.

Selain itu, juga terdapat bursa inovasi desa yang menampilkan potensi desa dari 33 kecamatan. Selain pamer inovasi, di bursa ini, juga bisa langsung bertransaksi. Namun, jangan dibayangkan transaksi jual beli seperti di pusat perbelanjaan. Melainkan, tukar menukar inovasi desa. Jika ada desa lain yang ingin mereplikasi program unggulan, akan disediakan kartu kontrak.

Selanjutnya, akan diberi pendampingan dari desa pendamping hingga mandiri dan bisa menjalankan peran sendiri. 

Tenaga Ahli Bidang Teknologi Tepat Guna Tomi Faisal menjelaskan, ada 122 kartu replikasi. Selain itu, para pengunjung di bursa inovasi juga bisa memberikan sumbangsih saran pengembangan desa. Saran ini dituangkan dalam kartu ide baru. 

"Nanti ada pendampingan dari tim pelaksana inovasi desa (TPID) serta Pendamping Desa. Kemudian masuk ke perencanaan desa dan menjadi regulasi," katanya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Malang Suwadji mengatakan, tujuan diadakan kegiatan ini, untuk menjembatani kebutuhan pemerintah desa mengenai solusi bagi penyelesaian masalah. 

Selain itu, inisiatif atau alternatif kegiatan pengembangan desa dalam rangka penggunaan dana desa yang lebih efektif dan inovatif. "Kami menggali  ide-ide kreatif yang lahir dan berkembang di desa," pungkasnya.

TPID dari Pujon, Ahmad Zainuri menjelaskan, dalam event kali ini mereka membawakan tiga inovasi di desa yang ada di Kecamatan Pujon. Perinciannya, UMKM carang apel, carang wortel dan aneka produk olahan kedua hasil bumi itu. Selanjutnya, juga menampilkan kopi bubuk Arabika.

Selain itu, juga menampilkan inovasi dalam hal pengolahan sampah. Sampah dari Kecamatan Pujon, dipilah  dan diolah di tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Ngabab. 

Kopi dari Desa Bendosari ini memiliki ciri khas dan keunikan. Yakni, ditanam di ketinggian 1.400 mdpl. Hingga saat ini sudah ada tiga petani yang mengembangkan. "Setiap bulan menghasilkan 500 kilogram. Sudah kami distribusikan ke kafe yang ada di Malang Raya," tegasnya.

(tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up