Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Juni 2023 | 02.48 WIB

Pertumbuhan Kredit Perbankan Turun, OJK: Siklus Musiman, Permintaan Terbatas

Ilustrasi kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta


JawaPos.com
- Tingginya dinamika perekonomian global menyebabkan kinerja intermediasi di beberapa sektor ekonomi nasional menurun. Meski demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikanstabilitas sektor jasa keuangan domestik tetap terjaga. Dengan permodalan solid, profil risiko terjaga, dan likuiditas yang memadai.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menuturkan, ketidakpastian negosiasi debt ceiling di Amerika Serikat (AS) telah meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global. Khususnya di pasar surat utang setelah sempat mereda seiring tekanan terhadap perbankan global yang juga mereda.

Kini, kesepakatan kenaikan batas utang AS telah disepakati. Dengan demikian, plafon utang pemerintah Negeri Paman Sam sebesar USD 31,4 triliun telah dicabut untuk menghindari gagal bayar.

Dia menceritakan, bahwa menjelang terjadinya kesepakatan dan beberapa hari setelah melakukan rapat dewan komisioner (RDK) pemantauan yang ketat dan seksama terus dilakukan terhadap gejolak yang terjadi di AS. Mengingat jumlah kepemilikan dari obligasi pemerintah AS oleh sektor keuangan Indonesia relatif sangat kecil, maka diprakirakan tidak akan memberikan dampak yang berarti.

“Namun perkembangannya, pemerintah dan legislatif AS menyetujui peningkatan ambang batas utang. Ini tentu membawa kelegaan dari sistem keuangan dunia,” ucap Mahendra, Selasa (6/6).

Mengingat, negara-negara seperti Jepang, Tiongkok, dan Inggris memiliki surat utang AS yang cukup besar. Sehingga dikhawatirkan dapat menimbulkan pengaruh terhadap stabilitas sistem keuangan global. Yang menarik, kesepakatan tersebut berlaku untuk dua tahun. Artinya, peristiwa debt ceiling tidak akan terulang tahun depan.

“Ke depannya, belajar dari pengalaman ini kota akan mencermati perkembangan dan kepemilikan surat utang AS. Serta risiko dampaknya terhadap ssk di Indonesia,” imbuhnya.

Dari sektor perbankan, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, kinerja intermediasi pada April 2023 tumbuh 8,08 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp 6.464 triliun. Didorong kredit modal kerja yang termoderasi menjadi 6,55 persen secara tahunan. Meski memang, pertumbuhan kredit tersebut lebih rendah dibandingkan Maret 2023 sebesar 9,93 persen YoY.

Menurut dia, melandainya kredit di April masih terkait siklus tahunan. Bahwa pertumbuhan kredit di awal tahun memang cenderung menurun. Penyebabnya dipengaruhi permintaan kredit yang tumbuh terbatas. Kemudian, pencabutan stimulus Covid-19 secara tidak langsung juga menimbulkan dampak. “Karena masih adanya ketidakpastian terkait risiko kredit,” jelas Dian.

Dalam mencabut relaksasi OJK tetap memerhatikan kondisi terkini. Agar dapat mengantisipasi dampak perkembangan kondisi domestik maupun global yang masih banyak tantangan dan ketidakpastian. Berbagai hal itu bisa jadi memengaruhi kondisi dan ekspektasi pelaku ekonomi. Termasuk berdampak terhadap pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia.

Meskipun demikian, Dian memiliki keyakinan kredit perbankan masih tetap bertumbuh sejalan dengan target. “Perbankan tetap akan menyalurkan kredit dengan pertumbuhan setidaknya 10 persen sampai dengan akhir 2023,” ujarnya.

Secara bulanan, kredit modal kerja dan konsumsi tumbuh masing-masing sebesar 0,55 persen dan 0,32 persen. Hanya saja, kredit investasi terkontraksi 0,16 persen. Untuk pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) April 2023 tercatat menurun menjadi 6,82 persen YoY menjadi Rp 7.996 triliun. Utamanya didorong penurunan pada tabungan.

Likuiditas industri perbankan masih dalam level yang memadai. Tercermin dari rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) sebesar 118,25 persen dan Alat Likuid/DPK (AL/DPK) di posisi 26,58 persen. Meskipun menurun dari bulan sebelumnya, Dian menyebutkan, masih jauh di atas ambang batas ketentuan masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.

Risiko kredit juga terjaga. Dengan rasio kredit macet alias non-performing loan (NPL) net perbankan sebesar 0,78 persen dan secara gross di level 2,53 persen.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore